Beranda Akses Lingkungan Warga Dicemari, Perusahaan Angkutan Batubara Tak Bisa Tunjukkan Izin

Lingkungan Warga Dicemari, Perusahaan Angkutan Batubara Tak Bisa Tunjukkan Izin

JAMBI, AksesNews – Izin pengelolaan lingkungan tidak bisa ditunjukkan PT Logistik Alam Semesta yang berlokasi di RT 28, Kelurahan Paal Merah, Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi. Sedangkan perusahaan itu diduga mencemari lingkungan, termasuk sumur milik warga.

Pejabat Pengawas PDLH Provinsi Jambi, Santi Hendra mengatakan perusahaan itu baru bisa menunjukan izin OSS. Namun, belum bisa menunjukkan surat izin tanda usaha (SITU).

Perusahaan itu bahkan tidak bisa memperlihatkan izin untuk pengelolaan lingkungan, seperti Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL), atau surat pernyataan pengelolaan lingkungan (SPPL).

“Kita tanya pihak perusahaan, itu memang baru memiliki izin OSS. Tapi terkait SITU, dan dokumen lingkungan belum bisa diperlihatkan apakah mereka belum mengurus izin SITU-nya. Kalau buat dokumen UKL-UPL, pasti ada tata cara pengelolaan limbahnya,” katanya, Senin (22/11/2021) sore.

Secara kasat mata, kata Sinta, perusahaan melanggar ketentuan pengelolaan lingkungan. Tidak ada pengelolaan limbah B3. Padahal, air terkontaminasi batu bara dan oli berceceran di lokasi perusahaan itu.

“Kita lihat dokumennya dulu apa saja. Tercantum dalam dokumen itu. Tapi, kalau kita lihat sekarang, pasti ada menghasilkan limbah B3, seperti oli bekas. Biasanya oli bekas itu kan ada penyimpanan sementara,” ujarnya.

DLH Provinsi Jambi saat ini itu belum mengambil tindakan tegas, karena masih memberikan waktu untuk memperlihatkan dokumen.

Namun, ternyata PT Logistik Alam Semesta belum pernah mengajukan dokumen izin kepada Sariah selaku Ketua RT Kelurahan Paal Merah.

“Mereka hanya sekedar lapor bahwa kami akan menggunakan lahan bekas gudang kopra itu untuk mobil batu bara. Terus, surat-menyurat sampai sekarang belum ada Bu RT lihat,” ujar Sariah.

Ia mengatakan pihak perusahaan itu sempat meminta izin untuk membuang limbah ke saluran kecil. Tentu saja tidak diberikannya, karena yang mau digunakan merupakan suluran untuk umum.

“Mereka juga minta izin mau buang ke belakang. Tidak saya izinkan. Padahal, salurannya tidak ada,” ujarnya.

Ia berharap ke depannya pihak perusahaan dapat berdampingan dengan warga. Bukan malah merugikan.

“Jangan hanya diam. Mereka yang punya usaha harus berjalan selayaknya. Jangan sampai merugikan, tapi dipikirkan juga warga,” ujarnya.

Sementara itu, Santoso selaku pengurus di PT Logistik Alam Semesta, mengatakan pihak perusahaan sudah memiliki SITU, tapi belum bisa ditunjukkan.

“SITU-nya ada, nanti dikirim. Kita baru 1 bulan, sebelumnya ini masih tahap pengerjaan dan persiapan. Bulan 6 itu kita masih renovasi. Bangun tempat,” ujarnya.

Santoso mengatakan akan berkoordinasi dengan Ketua RT setempat untuk melengkapi perizinan lain.

“Ini kita konfirmasi ke RT dulu, karena ini harus ada izinnya juga kan,” ujarnya.

Perusahaan itu sendiri memiliki lahan seluas 3.908 meter persegi. Sedangkan truk Angkutan berjumlah 95 unit.

Air kebutuhan perusahaan yang berada di tedmon, kata Santoso, sudah disambungkan ke rumah warga yang terdampak. Namun, airnya tidak selalu tersedia.

“Kalau tedmon air ini habis, kita gak selalu monitoring juga. Nanti kita beli satu tangki baru untuk ibu ini. Kita sambungkan selang dengan air dari sumur bor,” ujarnya.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, Nia Sri Handayani, menyampaikan air sumurnya keruh sejak bulan Juli tahun 2021. Sehingga sudah beberapa bulan dia kesulitan dalam mencuci pakaian, dan mandi.

“Airnya rusak, keruh. Kalau untuk mandi, berakibat sedikit gatal gitu. Sudah pakai kaporit dan tawas, tapi tidak mungkin kita teruskan,” katanya, Senin (22/11/2021).

Ada kalanya dia mandi di rumah tetangganya. Kadang kala dia merasa malu. Namun, dia tidak punya pilihan banyak.

Tidak hanya itu, dia dan keluarganya kesulitan menyediakan air minum, air untuk berwudhu, mencuci pakaian, dan mencuci sayuran.

“Sekarang nyuci pakai air galon. Kalau ada air hujan, kita tampung untuk bilas pakaian saja,” tutur Nia.

Dahulu, sebelum ada perusahaan truk angkutan bata bara di dekat rumahnya, sumur itu menyimpan air bersih, dan layak dikonsumsi. Tapi, sekarang tidak lagi.

Bahkan ketika hujan tiba, muncul genangan air yang berbau oli. Kuat dugaan berasal dari perusahaan yang tidak jauh dari rumahnya itu. (Sob)

DRadio 104,3 FM Jambi