Beranda Akses Mempertegas Identitas Kebudayaan Jambi

Mempertegas Identitas Kebudayaan Jambi

OPINI, AksesNews – Kebutuhan saya akan sebuah identitas pertama kali saya rasakan ketika saya mondok di pesantren tertua di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Meskipun berada di Sumatera Utara, pesantren tersebut memiliki cukup banyak santri dari Jambi sehingga kami sangat PeDe (Percaya Diri) menyandang identitas Jambi tanpa takut diperundung.

Saya masih ingat kala itu, kami dikenal sebagai santri yang kaya, flamboyan dan sombong. Identitas itu bukanlah tanpa alasan. Kebiasaan santri Jambi yang suka memakai pakaian bermerek membangun stigma tersebut.

Belakangan baru saya sadari bahwa santri Jambi tidaklah kaya seperti yang dipersepsikan itu. Kami hanya boros membelanjakan uang belanja sehingga terkesan seperti orang kaya.

Masih dalam suasana di pesantren, saya yang kala itu masih kelas satu mulai tertarik membaca buku. Toko buku Bang Maimun yang tidak jauh dari tempat tinggal saya menjadi tongkrongan favorit sambil menunggu jadwal sekolah siang. Buku-buku yang saya baca pun masih sangat sederhana. Cerita kancil, tiga puluh dongeng sebelum tidur hingga kisah-kisah humor sufi di majalah Hidayah.

Salah satu buku yang paling berkesan adalah Sejarah Keagungan Madzhab Imam Syafi’i karya Sirajuddin Abbas. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa Jambi adalah salah satu daerah pertama yang menerima Islam di Nusantara.

Jujur, Saya sangat terpukau akan fakta tersebut. Kemudian saya mulai mencari-cari sejarah Jambi lainnya di internet (meskipun dilarang, hal ini umum terjadi saat itu) melalui Handphone teman saya. Namun, hasil yang saya dapat tidak pernah memuaskan rasa ingin tahu saya.

Kekecewaan demi kekecewaan kembali saya terima seiring bertambahnya bacaan saya. Saya tidak menemukan sedikit pun sejarah Jambi di dalam buku-buku pelajaran Madrasah Aliyah yang kala itu saya temukan di salah satu kelas.

Rasa bangga yang saya rasakan ketika membaca buku Sirajuddin di atas perlahan berubah menjadi kekesalan dan pertanyaan. Mengapa Jambi tidak tertulis dalam buku-buku sejarah?

Sebaliknya, kita dengan mudah menemukan sejarah pulau Jawa di dalam buku-buku tersebut. Bahkan tidak berlebihan jika disebutkan bahwa pelajaran sejarah kita di dominasi oleh sejarah Jawa.

Ketidakterkenalan Jambi akan semakin terasa kalau kita pergi ke pulau Jawa. Bagaimana tidak, tidak jarang saya ditanya oleh seseorang mengenai letak provinsi Jambi. Yang lebih mengesalkan ada saja orang yang sok taunya bertanya, Jambi itu sebelah mananya Kalimantan ya? Atau sebelah mananya Sulawesi ya?

Setidakterkenal itu kah Jambi?

Sayangnya harus diakui Jambi memang tidak terkenal. Baik itu dari segi budaya maupun sejarahnya. Walaupun sebenarnya hal tersebut ada, namun tidak banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan oleh masyarakat Jambi itu sendiri.

Orang-orang tua dan para sesepuh sering mengeluhkan bahwa generasi milenial sudah meninggalkan adat budaya Jambi. Banyak dari kita, generasi milenial dan Z sudah tidak mengenal lagi seloko adat dan berbagai jenis budaya lainnya. Apalagi kisah-kisah nenek moyang yang bahkan orang tua kita pun banyak yang tidak tahu.

Meski begitu, generasi milenial dan Z bukan satu-satunya yang patut disalahkan. Menurut saya, setidaknya ada berapa faktor yang menyebabkan kurangnya pengetahuan kedaerahan generasi milenial dan Z Jambi. Poin pertama adalah memang tidak pernah diajarkan secara masif.

Yang tidak disadari oleh generasi tua adalah bahwa zaman telah berubah. Maka metode pembelajaran juga harus berubah. Sebelum adanya sekolah umum, dulu pendidikan diberikan langsung oleh orang tua dan guru-guru agama melalui seloko-seloko adat. Walaupun sekolah umum sudah umum sejak pasca kemerdekaan, namun orang tua waktu itu masih mengajar seloko ke anak-anaknya.

Akan tetapi, semakin ke sini pelajaran dari seloko sudah mulai tergantikan oleh tugas sekolah. Sehingga kemampuan berseloko tidak tersampaikan dengan baik dari generasi ke generasi.

Selain masalah metode pembelajaran yang berubah, Jambi tidak memiliki riset ilmu pengetahuan kedaerahan yang banyak. Sehingga menyulitkan generasi yang sudah tercemar oleh teknologi seperti kami untuk menggali sejarah dan kebudayaan Jambi.

Dan, walaupun sudah tersedia riset, tidaklah membuat masalah ini terselesaikan begitu saja. Budaya harus direkonstruksi ulang baik itu dari segi nilai maupun bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman. Meskipun memiliki nilai filosofis yang baik, budaya lama tetap tidak akan dilirik oleh generasi milenial jika tidak sesuai dengan semangat zamannya. Akhirnya budaya itu akan hilang seiring dengan wafatnya orang-orang dari generasi lama.

Untuk mengatasi ini ada baiknya kita mencontoh kepopuleran Tanjak/Lacak beberap tahun silam.

Siapa yang tidak mengenal lacak dari Jambi. Ikat kepala yang khas dari kain batik itu sudah digunakan oleh raja-raja Jambi sejak dahulu kala. Namun seiring dengan perubahan zaman, lacak sempat hilang dari permukaan bumi.

Beruntung, Zumi Zola muncul memperkenalkan kembali lacak kepada publik. Dengan berbagai model yang indah dan simple serta ditambah balutan baju batik Jambi yang khas. Siapa yang tidak terpesona akan penampilan Zumi Zola kala itu. Tidak hanya untuk acara formal, ternyata lacak juga terlihat casual dengan setelan kaos dan celana jeans.

Karenanya lacak kembali populer di tengah masyarakat Jambi. Lacak mampu menjawab tantangan zaman meskipun harus merubah nilai. Dari yang hanya dipakai para raja menjadi untuk umum. Dari kesan yang formal ternyata lacak juga matching untuk dibawa santai.

Pada akhirnya tugas identitas ini harus menjadi tugas bersama. Orang tua tidak seharusnya melulu menyalahkan generasi sekarang. Sedangkan anak muda mulailah menggali kebudayaan Jambi lalu memodifikasinya sedemikian lupa. Orang tua dan anak muda harus bisa saling bekerjasama untuk mengembangkan kebudayaan Jambi.

Bukankah seloko sudah mengajarkan “Ramai ampung dek nan mudo, elok negeri dek nan tuo dan mati anak nangung sekeluargo, hilang adat mati sekampung”.

Penulis: Ubaidillah (Alumni Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta / anak dusun kelahiran Mersam)