Beranda Akses FMN hingga Kaum Intelektual Progresif Bersatu Gelar Aksi Hari Buruh Sedunia di...

FMN hingga Kaum Intelektual Progresif Bersatu Gelar Aksi Hari Buruh Sedunia di DPR 

24

JAKARTA, AksesNews – Front Mahasiswa Nasional bersama Front Perjuangan Rakyat mengkordinasikan aksi dan kampanye dalam memperingati Hari Buruh Sedunia 2026, di berbagai wilayah di Indonesia, utamanya di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Di Jakarta, Aksi dilaksanakan di depan Gedung DPR/MPR RI.

FMN bersama dengan BEM UI dan ratusan mahasiswa dari Universitas Indonesia akan lebih dulu berkumpul di kampus UI Depok dan mulai berangkat menuju titik aksi pukul 13.00 WIB.

Di lokasi, FMN bersama dengan BEM UI, IPB, PNJ dan berbagai unsur gerakan mahasiswa lainnya bersatu dengan gerakan buruh independen dan berbagai elemen gerakan demokratis lainnya.

Dalam momentum hari buruh sedunia 2026, berlangsung di tengah intensitas perang agresi dan krisis yang semakin menajam. Perlawanan yang keras dan semakin luas terhadap dominasi imperialisme Amerika Serikat terus berlangsung dengan semakin sengit, seiring dengan perang agresi barbar yang terjadi terhadap kedaulatan rakyat dan bangsa Iran, Venezuela, Kuba dan negeri lainnya. Perang agresi yang terus melahirkan krisis kemanusiaan dan melipatgandakan penderitaan rakyat seluruh dunia.

Menurut Symphati Dimas, Ketua Umum FMN, di Indonesia, peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 berlangsung dalam intensitas perampasan hak dasar bagi klas buruh dan seluruh rakyat tertindas-terhisap yang semakin gila. 

“Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah pemerintah boneka imperialis, yang setia menjadi kaki tangan presiden gila perang, Donald Trump. Di Indonesia, di bawah Presiden Prabowo derajat penghisapan kapitalis terhadap kaum buruh di dalam pabrik olahan, rakitan setengah jadi dan pertambangan bersar milik imperialis terus meningkat tajam. Upah minimum yang diberlakukan bukanlah imbalan atas kerja, namun hanya menjadi harga tenaga kerja buruh yang sangat rendah,” ujarnya.

Rumusan penentuan harga tenaga kerja setiap tahun, lanjut Dimas bukan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh, melainkan untuk memastikan super profit didapat bagi imperialis dan borjuasi besar kompradornya.

Indonesia tetap dijadikan sasaran bagi pasar kapital finans dalam bentuk investasi dan utang. Oleh Presiden Prabowo, Indonesia tetap dipertahankan menjadi negeri dengan pengetahuan rendah, mesin dan peralatan industrial yang terbelakang, yang berbasis pada sistem pertanian setengah feodal di pedesaan yang luas.

Barang dagangan yang dihasilkan kaum buruh, hanya bisa bersaing dengan harga pasar dunia jika terus mengandalkan perampasan habis-habisan terhadap harga tenaga kerja buruh Indonesia. Di bawah dominasi imperialis, kaum buruh Indonesia hanya menjadi korban dari industri rendahan berorientasi ekpor dan substitusi impor saja.

Sementara itu di pedesaan yang luas, dominasi tuan tanah besar tetap mempertahankan sistem pertanian terbelakang dengan berbasis pada monopoli tanah. Kaum tani, suku bangsa minoritas dan nelayan menjadi sasaran utama penghisapan feodal di pedesaan. Ekspansi perkebunan besar kelapa sawit, food estate, hingga pertambangan mengucilkan kaum tani dalam hidup miskin papa yang semakin dalam.

Lebih lanjut, Dimas menjelaskan arti penting Hari Buruh Sedunia bagi mahasiswa. Bagi pemuda mahasiswa, peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 menjadi semakin penting ditengah perampasan hak dan kehancuran demokrasi.

“Pendidikan sebagai hak, digadai dalam proyek Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda yang tidak akan pernah memiliki tujuan untuk mencerdaskan apalagi membebaskan dari belenggu penghisapan dan penindasan. Anggaran besar MBG yang dirampas dari anggaran pendidikan hanya menjadi bahan bancakan birokrat korup yang coba dihidupi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Kaum buruh hanya bisa mengubah nasib buruk klasnya secara fundamental di Indonesia dengan ambil bagian aktif dengan tidak hanya menuntut upah dan kondisi kerja bagi kaumnya sendiri. Akan tetapi harus berjuang menghancurkan sistem setengah jajahan dan setengah feodal.

Kaum buruh harus berani mengambil kepemimpinan dan membantu secara langsung pembebasan kaum tani dari feodalisme di pedesaan dengan lebih dulu memenangkan Landreform Sejati. Karena bagaimanapun monopoli tanah dan sistem penghisapan feodal di pedesaan yang luas adalah basis sosial bagi dominasi imperialisme, sekaligus penghalang bagi pembangunan industri nasional di Indonesia.

“Kaum intelektual progresif, gerakan mahasiswa yang independen dan militan harus senantiasa ambil bagian dalam perjuangan pembebasan nasional bersama kaum buruh dan tani. Lawan segala upaya licik dari borjuasi besar komprador dan tuan tanah bersama pemerintahan Presiden Prabowo yang terus berupaya menjelma sebagai pimpinan gerakan buruh. Mereka bukanlah representasi sejati kaum buruh, justru mereka adalah pada pembelenggu kesadaran kaum buruh dan tani, berupaya memoderasi perjuangan klas. Mereka seperti Said Iqbal, Andi Gani Nenawea, Jumhur Hidayat dan banyak lainnya yang menyebut diri sebagai aktivis buruh dan demokrasi, sejatinya adalah representasi dan kaki tangan pemerintahan boneka,” tegas Dimas menyikapi dinamika politik dalam gerakan buruh.

FMN menyerukan kepada Pemuda mahasiswa, sebagai kaum terpelajar, memiliki tugas historis yang sangat mulia untuk membantu, bersekutu dengan klas buruh dan kaum tani menghancurkan sistem lama yang mempertahankan keterbelakangan, ketertindasan, dan keterhisapan.

Dengan membangun organisasi gerakan yang maju, militan, dan independen, pemuda mahasiswa akan mampu menggelorakan perjuangan rakyat dengan dipandu ilmu pengetahuan yang maju. Tidak hanya itu, mahasiswa juga harus membangun hubungan yang dekat dengan klas buruh, menggunakan perjuangan klas dan solidaritas antar rakyat tertindas-terhisap sebagai prinsip yang memimpin geraknya. 

Bersatunya pemuda mahasiswa, intelektual progresif dan klas buruh serta semi proletariat di perkotaan akan menjadi tombak termaju perjuangan anti-imperialis, anti-fasis, dan anti-kapitalis birokrat! Di pedesaan, Bersatu dengan kaum tani dalam perjuangan anti feudal, perjuangan land reform sejati untuk pembebasan kaum tani dari belenggu feodalisme. 

Sudah saatnya rakyat Indonesia bangkit, bersatu, dan berjuang untuk melawan tiga musuh rakyat yaitu:  imperialisme, feodalisme, dan kapitalisme birokrasi!

Perjuangan untuk mewujudkan land reform sejati sebagai tulang punggung industrialisasi nasional adalah api yang akan membumi hanguskan klas penindas-penghisap, menciptakan Indonesia baru yang adil, sejahtera, dan berdaulat.

Ketika rakyat Iran sudah membuktikan bahwa dirinya mampu untuk berdiri tegak di depan agresi imperialis, maka rakyat Indonesia memiliki jauh lebih banyak potensi dan syarat untuk membawa perjuangannya kedalam bentuk yang lebih maju! Perjuangan menghancurkan sistim Setengah Jajahan dan setengah Feodal.

Dalam menyambut datangnya momentum Hari Buruh Sedunia, Front Mahasiswa Nasional menuntut:

1. Mendesak Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengecam perang agresi imperialis Amerika Serikat dan Zionis Israel atas Iran dan tindakan barbar sebelumnya atas Presiden Maduro dan rakyat Venezuela. Presiden Prabowo harus membatalkan seluruh perjanjian militer dengan pemerintahan Presiden Donald J. Trump karena pelaku kejahatan perang dan tidak membawa bangsa dan rakyat Indonesia sebagai pendukung perang agresi imperialis langsung maupun tidak langsung. 

2. Melindungi dan membebaskan kaum buruh dan seluruh rakyat tertindas-terhisap di Indonesia dari kenaikan harga minyak bumi dan gas yang mendorong kenaikan seluruh kebutuhan pokok rakyat karena perang agresi imperialis Amerika Serikat zionis Israel atas Iran. 

3. Mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan penggunaan investasi asing dan utang luar negeri untuk membiayai kebijakan dan program atas nama kepentingan dan aspirasi rakyat Indonesia akan tetapi justru menghancurkan kebebasan rakyat untuk berproduksi bebas, merampas hak rakyat untuk pekerjaan yang bermutu dan berjangka panjang dan menghancurkan kedaulatan bangsa Indonesia. Program seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih serta berbagai program yang berkaitan dengan Swasembada Pangan dan kedaulatan pangan palsu harus dihentikan. 

4. Menghentikan seluruh kebijakan dan program yang menghancurkan cadangan kekayaan alam Indonesia yang bersisa dan tidak memberikan kemajuan berarti bagi rakyat selain merusak alam seperti pertambangan nikel berkedok  okum  terbarukan dan perluasan perkebunan kelapa sawit yang justru memperluas kemiskinan kaum tani dan kerusakan alam di pedesaan Indonesia. 

5. Menjamin kebebasan berorganisasi dan berpendapat bagi seluruh rakyat tertindas dan terhisap Indonesia terutama kaum buruh, kaum tani dan kaum intelektual tanpa ancaman hukum dan terbebas dari tindakan kekerasan apapun dari aparat negara secara langsung maupun tidak langsung. (Rls/*)