Beranda Akses Bagi-bagi ‘Fee’ di Proyek Revitalisasi Asrama Haji Jambi

Bagi-bagi ‘Fee’ di Proyek Revitalisasi Asrama Haji Jambi

JAMBI, AksesNews – Sebanyak 7 (tujuh) orang ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi Asrama Haji Jambi, yang merugikan negara mencapai Rp 11,7 miliar dari total anggaran Rp 51 miliar lebih.

Dalam kasus tersebut, melibatkan Mantan Kepala Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jambi, M. Taher Rahman. Selain itu, enam tersangka lainnya yakni, Dasman Kepala Bidang Haji Kemenag selaku Pejabat Pembuatan Komitmen (PPK), Eko Dian Iing Solihin Kepala ULP Kemenag.

Kemudian, Mulyadi selaku Direktur PT Guna Karya Nusantara Cabang Banten, Tendrsyah Pihak Swasta selaku Sub Pengerjaan Asrama Haji, Johan Arifin Muba selaku pemilik proyek Asrama Haji, dan Bambang Marsudi Raharja selaku Pemilik Modal Pembangunan Asrama Haji.

Semua tersangka tersebut, dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (Kejati) Jambi. Dengan dikawal aparat kepolisian, tersangka dengan mengenakan rompi oranye dilimpahkan tahap II, pelimpahan tersangka dan barang bukti.

Kasipenkum Kejati Jambi, Lexy Fatharani membenarkan pelimpahan itu. Tujuh tersangka tengah dilakukan pemeriksaan. “Tahap II, tersangka dan barang bukti,” kata Lexy saat proses pelimpahan tengah berlansung.

Selanjutnya, kata Lexy, Jaksa yang ditunjuk menjadi penuntut umum akan membuat dakwaan untuk ke 7 tersangka. “Guna segera dilimpahkan ke Pengadilan,” kata Lexy.

Kasus ini sebelumnya ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jambi. Penyidik Ditreskrimsus mengusut adanya dugaan tindakan korupsi dalam proyek revitalisasi asrama haji.

Dari hasil penyelidikan itu, Polda Jambi kemudian menetapkan 7 orang tersangka. Salah satunya adalah mantan Kakanwil Kemenag Jambi, M. Taher Rahman.

Kerugian dari Pembagian Fee Proyek

FOTO: Kerugian negara ditaksir mencapai Rp 11,5 miliar.
FOTO: Kerugian negara ditaksir mencapai Rp 11,5 miliar.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal khusus Polda Jambi Kombes Pol Thein Tabero mengatakan kepala kementrian agama tersebut menjadi pelaku utamanya. “Dia yang mengatur semuanya,” ungkapnya, Selasa (29/10/2019).

Dia menyebutkan akibat perbuatan tersangka tersebut negara mengalami kerugian negara sebanyak Rp 11,7 miliar. “Dana tersebut bersumber dari APBN dengan nilai Rp 51 miliar,” sebutnya.

Bahkan pembagian fee yang dilakukan para tersangka tersebut menjadi kerugian tersendiri. “Kerugiannya dari pembagian fee ini,” tambahnya.

Untuk diketahui, kasus Asrama Haji tersebut mangkrak dan menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jambi sebesar Rp 11,7 miliar. Lantaran proyek pembangunan tersebut baru dikerjakan sekitar 20 persen, sekitar 10,1 miliar. Namun anggaran telah dikucurkan 92 persen dari total anggaran Rp 51 Miliar.

Asrama Haji Direncanakan Berfasilitas Elite

FOTO: Asrama Haji Jambi
FOTO: Asrama Haji Jambi

Proyek revitalisasi Asrama Haji tersebut memakan anggaran mencapai Rp 53 miliar pada tahun 2016 lalu. Hasil audit BPK kerugian negara mencapai Rp 11,5 miliar. Proyek Revitalisasi Asarama Haji yang dikerjakan oleh PT Guna Karya Nusantara (GKN) yang berkududukan di Banten.

Asrama Haji ini diprediksi dapat menampung 400 orang dengan banyak kamar mencapai 200. Dalam perencanaan akan ada restoran, dan caffe. Gedung berlantai lima ini akan memiliki restoran dan cafe berada di lantai satu. Tidak hanya itu akan ada ruang meeting dan kamar tidur di lantai yang berada di lantai dua.

Selain itu, akan ada di lantai tiga dan empat yang merupakan kamar tidur. Terahir lantai empat yang merupakan tempat peralatan jika pembangunan itu sesuai dengan rencana. Kemudian di lantai lima akan digunakan sebagai aula untuk para jamaah haji nantinya. Namun waktu terus berjalan gedung tersebut berhenti dikerjakan sejak Maret 2017 lalu. (Bjs/*)

DRadio 104,3 FM Jambi