Beranda Akses Akibat Membajak Film, Seorang Pria di Jambi Duduk di Kursi Pesakitan

Akibat Membajak Film, Seorang Pria di Jambi Duduk di Kursi Pesakitan

JAMBI, AksesNews – Seorang pemuda di Jambi menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jambi atas kasus pembajakan film Keluarga Cemara yang diproduksi Visinema Pictures, Kamis (28/01/2021).

Terdakwa dalam kasus ini merupakan pemilik website Duniafilm21, yakni Aditya Fernando Phasyah dan Robby Bhakti Pratama (DPO) yang dilaporkan atas dugaan pidana pembajakan film, mengunggah tanpa izin dan mengambil keuntungan secara ilegal.

Atas perbuatannya itu, website yang dikelola terdakwa dilaporkan oleh pihak Visinema Pictures, dan terdakwa selaku pengelola harus berurusan dengan hukum. Terdakwa Aditya duduk di kursi pesakitan karena perbuatannya.

Sidang ini dipimpin Ketua Majelis Hakim Arfan Yani dan Penuntut Umum Kejati Jambi, Hariyono sebelumnya mendakwa Aditya telah melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pihak Visinema Pictures secara materil dan non materil.

Dalam persidangan itu, Manajer Distribusi PT Visinema Pictures, Putro Mas Gunawan, selaku pelapor memberikan kesaksian dihadapan majelis hakim yang mengungkapkan, bahwa ia menemukan puluhan situs streaming ilegal yang menayangkan film produksi Visinema. Salah satunya, adalah Duniafilm21.

“Awalnya ada yang memberitahu kalau ada film dibajak. Kemudian saya googling (pencarian dengan mesin pencari Google). Setelah digoogling memang ditemukan puluhan website yang menayangkan film kami secara ilegal,” kata Putro.

Dengan temuan itu, kata Putro, pihaknya melaporkan website-website itu ke pihak kepolisian. Aditya ditangkap oleh penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pada Selasa, 29 September 2020 lalu, di kawasan The Hok, Jambi Selatan, Kota Jambi.

Saat dilakukan penangkapan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya adalah buku tabungan yang digunakan terdakwa untuk bertransaksi. Kemudian, kartu ATM, flashdisk, laptop, perangkat komputer dan handphone.

Terdakwa dikenai pasal 32 ayat (2) Jo Pasal 48 ayat (2) Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang ITE sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Selain itu, terdakwa juga dikenai pasal 113 ayat (3) jo Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e dan atau huruf g, UU No. 28 tahun 2014 tentang hak cipta jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Apabila dalam persidangan terdakwa terbukti bersalah dengan pasal-pasal tersebut, maka terdakwa akan dikenai denda sebanyak-banyaknya Rp 4 miliar dan pidana penjara paling lama 10 tahun.

Sementara itu, Sutradara kenamaan sekaligus CEO dan Founder Visinema Pictures, Angga Dwimas Sasongko turut mengomentari kasus tersebut. Menurutnya, proses hukum terhadap pelaku pembajakan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap pelaku pembajakan.

“Sidang kasus pembajakan ini mewakili seluruh kreator di Indonesia yang karyanya telah dibajak. Pembajakan film adalah sebuah kejahatan yang tidak bisa ditolerir dan Visinema berkomitmen untuk terus mencari dan memproses siapapun yang telah melakukan pembajakan,” tegasnya.

Sutradara film Filosofi Kopi dan NKCTHI ini juga berharap proses hukum pada kasus ini berjalan adil. Proses hukum ini diharapkan jadi presiden penegakan hukum pada pembajakan karya cipta yang selama ini selalu dipandang sebelah mata.

“Semoga ini menjadi efek jera bagi pelaku lain, saatnya karya cipta Indonesia dihargai di negaranya sendiri,” pungkasnya.

SUMBER: Kumparan/Jambikita.id

DRadio 104,3 FM Jambi