Beranda Akses SKK Migas Paparkan Capaian Kinerja Hulu Migas Kuartal III 2019

SKK Migas Paparkan Capaian Kinerja Hulu Migas Kuartal III 2019

JAKARTA, AksesNews – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menerapkan empat strategi jangka panjang untuk mengejar produksi satu juta barel per hari/barrel oil per day (bopd) di tahun 2030.

Angka tersebut melebihi angka yang dicanangkan dalam Rencana Umum Energi Nasional tahun 2017 sebesar lebih dari 200 ribu bopd. Keempat strategi tersebut mengedepankan strategi eksplorasi yang masif dan intensif.

Strategi kedua mendorong dan mengkampanyekan penerapan enhanced oil recovery (EOR) di lapangan mature. Selain eksplorasi dan EOR, strategi lainnya dengan mengakselerasi monetisasi proyek-proyek utama, sehingga mempercepat potensi sumberdaya menjadi lifting.

Strategi terakhir dalam menahan penurunan produksi alami serta mendorong peningkatan produksi adalah dengan menjaga keandalan fasilitas produksi, maksimalisasi kegiatan kerja ulang dan perawatan sumur, reaktivasi sumur tidak berproduksi (idle), dan inovasi teknologi.

Realisasi produksi siap jual alias lifting minyak dan gas bumi (migas) hingga Kuartal III-2019 masih di bawah target yang dipatok di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga September, SKK Migas mencatat realisasi lifting baru menyentuh 1,8 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd).

Angka itu setara dengan 90% dari target APBN sebesar 2 juta boepd. Dari jumlah tersebut, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto merinci, lifting minyak mencapai 745.000 bopd dan lifting gas sebesar 1,05 juta boepd.

Dwi menyebut, 84% dari total lifting hulu migas berasal dari sepuluh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama, antara lain ExxonMobil, Chevron, Pertamina, BP, ConocoPhilips, Eni, Medco Energi dan Petrochina. Sementara 16% sisanya disumbang oleh 80 KKKS lainnya.

Menurutnya, ada sejumlah alasan yang menghambat capaian kinerja lifting migas kuartal III-2019. Setidaknya, ada tiga alasan yang Dwi terangkan. Dwi bilang, faktor pertama yang membuat lifting tertekan ialah harga gas dunia yang mengalami penurunan.

Harga gas dunia yang anjlok hingga di bawah US$ 4 per Million British Thermal Unit (MMBTU) berakibat pada pengurangan produksi gas (curtailment), terutama pada produk gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG). Alhasil, pengurangan tersebut berdampak pada penjualan kargo gas, lantaran ada pembatalan pembelian dan penundaan penjuaalan kargo.

“Pengurangan produksi LNG antara lain terjadi di LNG Bontang, LNG Tangguh, dan LNG Donggi Senoro. Harga gas dunia terpukul. Sehingga lebih baik menyimpan gas dibandingkan menjual, itu berdampak pada cutailment,” kata Dwi, Kamis (24/10/2019).

Di samping harga gas, Dwi juga mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera telah mengganggu produksi di Blok Rokan. Padahal, Blok Rokan menyumbang lifting minyak kedua terbesar.

Selain itu, Dwi juga menyoroti soal bocornya sumur YYA-1 di Blok Offshore North West Java (ONWJ). Padahal, blok yang dioperatori oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) tersebut sebelumnya ditargetkan bisa menambah produksi dan lifting migas nasional. “Seharusnya ada tambahan produksi, tapi karena ada kejadian di YYA-1 ONWJ, itu tidak jadi,” kata Dwi.

Kondisi tersebut juga berdampak pada penerimaan negara di sektor hulu migas hingga kuartal III baru mencapai US$ 10,99 miliar, atau menurun dari periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai US$ 11,8 miliar. Secara target tahunan, angka US$ 10,99 miliar itu setara dengan 62,2% dari target tahun 2019 yang ditetapkan US$ 17,5 miliar.

Terkait dengan penerimaan negara ini, Dwi menjelaskan bahwa hal itu juga dipengaruhi oleh Indonasia Crude Oil (ICP) yang hanya berada di angka US$ 60-an per barel, di bawah target asumsi makro APBN US$ 70 per barel. Kendati begitu, realisasi investasi di sektor migas hingga September 2019 tercatat US$ 8,4 miliar atau meningkat 11% dibandingkan realisasi investasi di periode yang sama tahun lalu.

Namun secara target tahunan, realisasi investasi per kuartal III baru mencapai 57% dari target investasi hulu migas tahun 2019 di angka US$ 14,7 miliar. Meski demikian, Dwi optimistis investasi di sektor hulu migas akan terus menanjak seiring dengan adanya 42 proyek utama hulu migas hingga 2027.

“Investasi hulu migas ke depan akan terus meningkat mengingat hingga 2027 terdapat 42 proyek utama dengan total investasi US$ 43,3 miliar,” ungkap Dwi.

Adapun, pendapatan kotor (gross revenue) dari 42 proyek tersebut diproyeksikan sebesar US$ 20 miliar dengan total produksi 1,1 juta boepd yang mencakup produksi minyak sebesar 92,1 ribu bopd dan gas sebesar 6,1 miliar kaki kubik per hari.

Realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) hingga September 2019 mencapai 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2 juta barel setara minyak per hari/barrel oil equivalent per day (boepd).

Total lifting migas sebesar 1,8 juta boepd dengan rincian lifting minyak 745 ribu bopd dan lifting gas 1,05 juta boepd. Sebesar 84 persen total lifting hulu migas merupakan kontribusi dari sepuluh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama dan 16 persen didukung 80 KKKS lainnya. Semua itu untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

SUMBER: kontan.co.id

DRadio 104,3 FM Jambi