Beranda Akses ‘Islamic Centre’ Antara Membangun Gedung dan Membangun Manusia

‘Islamic Centre’ Antara Membangun Gedung dan Membangun Manusia

OPINI, AksesNews – Apa yang tergambar dalam pikiran pembaca jika mendengar atau membaca kata ‘Islamic Centre’, tentunya banyak yang berfikir bahwa itu merupakan bangunan atau gedung kokoh yang berbentuk masjid agung dan dipenuhi dengan fasilitas-fasilitas yang memadai.

Jika kita ‘kepoin’ sedikit, islamic centre kerap menjadi salah satu program ataupun bahan kampanye setiap calon kepala daerah, baik di tingkat gubernur, walikota maupun bupati. Jika kita tarik untuk di wilayah Kabupaten Batanghari, program pembangunan islamic centre ini sudah menjadi ‘janji-janji’ dari pemimpin-pemimpin terpilih sebelumnya.

Penulis pun penasaran, bagaimana jika islamic centre benar-benar dibangun di Kabupaten Batanghari? Akankah program pembangunan yang bakal menggelontorkan dana miliaran rupiah tersebut bermanfaat bagi masyarakat Batanghari yang mayoritas beragama Islam? Bagaimana memperkenalkan islamic centre ke luar wilayah Kabupaten Batanghari ataupun wilayah Provinsi Jambi? Lalu, bagaimana membangun akhlak manusianya?

Tentunya, membangun islamic centre tidak hanya membangun ‘masjid agung’ saja, namun bagaimana tempat tersebut dapat dipergunakan sebagai pusat pengembangan agama Islam, yang dilengkapi dengan sarana pendidikan, bisnis dan juga penginapan bagi para calon jama’ah haji ataupun pada saat kegiatan keagamaan. Dan juga bagaimana meningkatkan spirit keagamaan masyarakat Kabupaten Batanghari bahkan Provinisi Jambi.

Sebab, jika kita hanya membangun gedung tanpa memberikan banyak manfaat kepada masyarakat, tentunya pembangunan tersebut akan terkesan menjadi sia-sia. Mayoritas masyarakat menginginkan, jika islamic centre dibangun, maka akan banyak masyarakat yang semakin kuat agamanya, tidak ada lagi pemuda yang malas untuk datang ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh.

Tidak ada lagi oknum yang sembunyi-sembunyi untuk makan siang saat bulan puasa. Dan juga bagaiman uang dari infaq berputar untuk kepentingan jamaah, sebab uang perolehan infaq seharusnya segera digunakan untuk keperluan umat. Bukan diendapkan, tapi diputar. Selalu ada kegiatan bermanfaat untuk jamaah.

Tidak hanya itu saja hadirnya islamic centre juga harus melibatkan lembaga ataupun ormas Islam agar dapat melakukan karya nyata berupa program pemberdayaan berbasis tehknologi dan ekonomi keummatan. Lalu, bila ada seorang ulama Batanghari memiliki karya tulis kitab, isamic centre harus hadir memfasilitasi, memperkaya dan mensosialisasikan karya ulama-ulama tersebut.

Kemudian, program pembangunan islamic centre ini diharapkan mampu mengusung prinsip barokah, yaitu membangun keseimbangan pembangunan fisik di Batanghari dengan pembangunan spiritual rohaniyah ummat, ulama dan umara agar kedamaian dan keamanan Batanghari selalu terjaga. Sehingga kedaulatan ummat hadir memberikan energi positif bagi kelangsungan pembangunan Batanghari.

Penulis mengharapkan, program pembangunan islamic centre dalam setiap visi misi setiap cakada dapat direalisasikan sebaik mungkin. Tidak hanya sekedar ‘gimmic’ belaka untuk menarik minat masyarakat agar dipilih dan dikenal sebagai cakada yang ‘islami’.

Jika islamic centre di Batanghari benar-benar dibangun, kedepan tentu menjadi tugas dari pemerintah dan masyarakat Kabupaten Batanghari khususnya untuk menjaga dan memakmurkan tempat tersebut. Selain dalam rangka menjadikan wilayah yang “religius, iman dan taqwa”, islmic centre dapat dijadikan sebagai objek wisata religi dan sebagai penopang program Visit Batanghari. (*)

Penulis: Dwi Danial (Warga Batanghari)

DRadio 104,3 FM Jambi