Beranda Akses Mengenal Bakal Cabup Termuda di Pilkada Tanjabbar 2020

Mengenal Bakal Cabup Termuda di Pilkada Tanjabbar 2020

FOTO: Wakil Ketua DPRD Tanjung Jabung Barat, Ahmad Jahfar.
FOTO: Wakil Ketua DPRD Tanjung Jabung Barat, Ahmad Jahfar.

JAMBI, AksesNews – Masyarakat Bumi Serengkuh Dayung Serentak Ketujuan tentu sudah populer dengan Ahmad Jahfar. Nama ini sudah tiga periode duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Pada periode 2009-2014, Putra kelahiran Senyerang 1980 ini duduk sebagai Ketua Komisi III. Dan pada periode 2014-2019 dan 2019-2024 dia dipercaya sebagai Wakil Ketua DPRD Tanjab Barat.

Dibalik kesuksesan memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui jalur legislatif, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa untuk mencapai tahap ini dia harus melewati fase linangan air mata dan cucuran keringat yang besar.

Ya, diawal suksesnya putra pasangan H Muchyari dan Hj Thursina ini sempat terseok dan gamang saat memperjuangkan mimpinya.

Cerita berawal, ketika mengenyam pendidikan di sekolah dasar saja, ia diminta oleh kedua orang tuanya untuk sekolah pada dua sekolah sekaligus. Sewaktu pagi, Jahfar kecil sekolah di SDN 260/V Tanjung Jabung, sedangkan pada sore hari ia bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Wathoniyah Islamiyah.

Menjalani pendidikan dengan dua sekolah sekaligus, membuat ia harus memilih satu di antara sekolah. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Jahfar kecil memutuskan untuk bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Wathoniyah Islamiyah hingga kelas 5, sedangkan SDN 260/V Tanjung Jabung di Desa Pasar Senen, tepatnya di Parit 10 Lajar berhasil ia tamatkan di tahun 1990.

Minimnya fasilitas pendidikan yang dekat dari tempat ia tinggal pada waktu itu, membuat anak anak desa setempat di haruskan merantau demi menyambung pendidikan menengah pertama. Sebagian besar teman – teman sebaya Jahfar di kampung ada yang memilih merantau ke Kuala Tungkal, ke Jambi, bahkan ada yang ke Pulau Jawa.

“Jangan bayangkan jarak tempuh kampung ke Tungkal seperti sekarang, karena ke tungkal bagi Jahfar kecil sangat lah jauh dan istimewa. Pasalnya, jika ke Tungkal berarti liburan, makan enak, jajan enak dan dapat baju baru serta uang saku. Itupun setelah kopra milik si mbah terjual dulu, kalau tidak di Gudang Sumber Alas biasa juga di Mirasa,” ungkap Ahmad Jahfar kepada Bekabar.id.

Namun, ketika itu Jahfar memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren di daerah Indragiri Hilir Riau. Yakni di Madrasah Tsanawiyah “Anwarul Falah” yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Alhuda Al Ilahiyah, di Desa Mugomulyo Benteng Reteh Inhil, Riau. Saat ini, sekoah tersebut sudah berganti nama menjadi MTS Yayasan Ponpes Al Huda Al Ilahiyah.

Setelah tiga tahun menimba ilmu di pesantren, Jahfar akhirnya berhasil menamatkan pendidikan menengah pertamanya pada tahun 1993. Karena merasa betah, Jahfar pun memutuskan untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas di Pondok Pesantren yang sama dan menyelesaikan studinya pada tahun 1997.

Sebagaimana tradisi pondok pesantren, setelah tamat dari madrasah aliyah, para santri tidak diperbolehkan langsung pulang kampung, mereka diwajibkan untuk mengabdi kepada masyarakat selama satu tahun terlebih dahulu.

Jahfar muda pun ditugaskan untuk mengabdi di kampung terpencil yang bernama Parit Hidayat, kampung tersebut terletak ditengah pulau kecil.

“Selama mengabdi, saya diangkat menjadi guru di Prt Hidayat desa Kuala Sungai Batang satu. Selama mengabdi itu pula, banyak suka duka yang saya lalui,” kenangnya.

Pada tahun 1997, terjadi resesi ekonomi yang menyebabkan stabilitas politik terguncang. Pemerintah Suharto mulai digugat, aksi mahasiswa dimana mana menuntut Suharto mundur.

Melihat mahasiswa amat heroik dalam menentukan arah perubahan bangsa, Jahfar mudapun sangat termotivasi untuk menjadi mahasiswa di kala itu. Sempat terjadi perdebatan panjang antara orang tua ketika Jahfar meminta untuk kuliah. Pasalnya dulu, mahasiswa merupakan suatu hal yang amat langka di kampungnya, hanya dua, tiga orang saja yang duduk dibangku perkuliahan.

Selain itu, keberatan orang tua Jahfar disebabkan karena pertimbang kondisi ekonomi keluarga yang tergolong pas pasan.

“Saat itu saya meminta kuliah di Medan atau Yogjakarta,” ujar Jahfar.

Namun, berkat dorongan paman, bibi, serta keluarga dari pihak ayah dan ibunya, akhirnya Jahfar direstui orang tua untuk kuliah dengan persyaratan harus di Jambi.

“Dengan gembira saya berangkat ke Jambi dan mendaftar di Universitas Batanghari, setelah itu saya lolos di Fakultas Teknik. Akan tetapi, problem besar karena saya tamatan Madrasah Aliyah. Saya sadar tak akan mampu karena saya tak punya dasar eksakta. Singkat cerita, sayapun memutuskan pindah ke Fakultas Hukum yang memang menjadi impian saya untuk kuliah,” terang Jahfar.

Selama kuliah, Jahfar muda juga sangat aktif di internal maupun eksternal kampus. Semuanya termotivasi karena keinginan besar untuk maju sebagai pemuda kampung. Sampai akhirnya, Jahfar muda mengikuti Basic Training di HMI. Arahan dari para senior untuk ikut HMI merupakan faktor pendorong, sampai di tahun 2004, Jahfar pun terpilih menjadi Ketua Umum HMI Cabang Jambi.

“Bisa dibilang kuliah saya lebih banyak di HMI,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 2005, Jahfar muda sempat bingung dalam menentukan pilihan hidup. Dipikirannya, hanya ada dua, yakni kembali ke kampung atau menetap di Jambi. Disisi lain, orang tuanya meminta ia tak ke kampung terlebih dahulu.

Belum lagi ketika itu, masyarakat di kampung selalu pesimis melihat anak-anak yang bersekolah di kota pada akhirnya pulang dan menjadi petani serta tukang kebun.

“Karena jika saya sudah pulang kampung, bapak memastikan saya akan tetap berprofesi menjadi petani. Kata bapak, kau harus bisa tunjukkan bahwa sekolah tinggi itu bisa membawa kemajuan. Bapak dan adik-adikmu tak mau, jika orang yang sudah bersekolah tinggi, namun hasilnya sama dengan orang biasa,” kenang Jahfar.

Dengan nasehat tersebut, akhirnya Jahfar memutuskan menetap di Jambi dan bertekad menunjukkan kiprah sukses di luar kampung demi memotivasi anak – anak muda di kampungnya agar meneruskan pendidikan ditingkat SLTP maupun SLTA.

Selama di Jambi, Jahfar selalu melihat perkembangan daerahnya. Ia menilai, saat itu kondisi infrastruktur di desa kelahirannya sangat jauh tertinggal. Didalam hati dan fikirannya, sebagai anak yang berasal dari kampung tersebut, tentunya mempunyai beban moral terhadap kemajuan daerah.

Berkat dorongan Antony Zeidra Abidin selaku senior di HMI yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Jambi, membuat Jahfar akhirnya mengambil keputusan memilih jalur politik dengan bergabung ke partai Golkar dan kemudian diangkat menjadi Wakil Sekretaris DPD Golkar Jambi. Karena menurutnya, akan lebih cepat bisa mendorong kebijakan daerah melalui jalur politik agar masyarakatnya mendapatkan hak yang semestinya.

TJahfar mengikuti kontestasi Pileg pada 2008, di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan mengambil Daerah Pemilihan Pengabuan dan Senyerang sebagai basis politik. Karena dorongan dan dukungan keluarga serta masyarakat, akhirnya ia terpilih menjadi anggota DPRD termuda Tanjab Barat saat itu.

Tak ada jalan yang layak saat awal ia menjabat. Begitupun jembatan, dermaga, sekolah, infrastruktur pertanian dan sarana ibadah. Namun tekadnya tetap bulat, mimpi untuk membangun daerahnya harus tetap jadi kenyataan.

“Alhamdulillah, saat ini banyak infrastruktur yang telah berhasil kita dorong dan bisa dinikmati masyarakat. Bahkan, SLTA Negeri pun berhasil kita wujudkan di pelosok desa tanah kelahiran saya,” bebernya.

Jahfar menyadari bahwa apa yang di lakukannya masih jauh dari kata sempurna. Karena perjuangan menurutnya masih panjang dan tak akan pernah berhenti. Kewenangan yang terbatas sebagai Anggota DPRD juga menjadi salah satu penyebab lambatnya cita-cita Jahfar tercapai.

“Jadi, tidak hanya didapil saya saja. Namun saya bertekad membangun wilayah di Kabupaten Tanjab Barat secara menyeluruh. Mohon doa dan dukungan masyarakat Tanjab Barat, Inshaa Allah pada Pilbup tahun depan cita-cita kita bersama akan terwujud,” ujar Jahfar.

Setelah mendaftarkan diri dibeberapa partai politik, saat ini Jahfar menjadi Bakal Calon Bupati Termuda Tanjab Barat dan siap menatap kontestasi politik lima tahunan yang akan digelar tahun depan. (Bjs/Arf)

DRadio 104,3 FM Jambi