Beranda Akses Pendidikan di Pedalaman Jambi, Anak-anak SAD Ingin Membaca

Pendidikan di Pedalaman Jambi, Anak-anak SAD Ingin Membaca

JAMBI, AksesNews – Suku Anak Dalam atau SAD merupakan satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, dan mayoritas ada di Provinsi Jambi. Salah satu tempat bermukimnya SAD yakni di pedalaman Sungai Bahar, Desa Sungai Renjah, Unit 22, Kabupaten Muaro Jambi.

Disana ada anak-anak dari SAD yang ingin sekali belajar untuk bisa membaca. Seperti diketahui, pendidikan merupakan faktor utama dalam menentukan kemajuan sebuah bangsa. Namun, untuk merasakan pendidikan yang baik dan berkualitas masih sangat sulit bagi anak-anak SAD.

Baru-baru ini, upaya literasi bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut terus diupayakan oleh Serikat Perempuan Indonesia (Seruni). Mereka adalah Komunitas pertama yang minggu lalu, sudah melihat langsung bagaimana keadaan SAD yang ada di Desa Sungai Renjah.

“Tujuan besar Seruni menuju SAD adalah bertemakan SAD ingin Membaca, disana ada 11 anak yang sulit sekali untuk belajar, dalam artian tidak ada fasilitas yang diberikan kepada mereka. Bahkan, disana tidak disediakan tempat belajar/sekolah,” kata salah satu anggota dari Seruni, Dian Utami, Rabu (23/01/2019).

Untungnya, masyarakat disana peduli dengan keadaan mereka, tetapi tetap saja, penduduk disana hanya dapat membantu apa yang mereka bisa lakukan.

“Contohnya tempat sekolah, itu hanya tempat perkumpulan suatu desa, tapi karena anak-anak tersebut tidak memiliki tempat untuk belajar. Maka dari itu, penduduk disana menjadikan itu sebagai tempat mereka belajar. Bersyukur sekali, karena mereka sangat semangat sekali untuk belajar walaupun dengan fasilitas seadanya,” kata Dian Utami.

Kepedulian Seruni ini, tentunya harus jadi perhatian untuk kita semua, karena memang sulit sekali untuk mereka mencicipi pendidikan yang layak seperti yang kita rasakan.

Seruni datang dengan rasa peduli, tidak hanya mencari pengalaman, tapi juga melihat keadaan dan kekurangan disana. Maka dari itu, setelah melihat langsung, SAD memang butuh fasilitas dan guru untuk membimbing mereka.

“Mereka mulai belajar dari jam 08.00-10.00 WIB, dari hari Senin-Sabtu. Itupun, gurunya hanya 1 orang saja, dan hanya penduduk disana yang mempunyai niat untuk membantu anak-anak SAD untuk belajar,” jelasnya.

Seruni ini juga memberikan bantuan berupa buku tulis, buku gambar, buku belajar, buku cerita, pena, pensil, dan perlengkapan belajar lainnya. Dalam beberapa hari di Desa Sungai Renjah, tentunya banyak pelajaran berharga yang didapatkan disana.

Seruni tentunya tidak hanya membantu belajar ataupun bermain bersama anak-anak SAD, namun Seruni juga mengajar melakukan shearing pendidikan bersama penduduk disana, berdiskusi bersama para orangtua disana. Dan Mereka juga menampilkan drama, tari, puisi, dan bernyanyi. Tentunya kegiatan itu semua, membuat mereka lebih semangat untuk belajar.

“Harapan saya dan teman-teman tentunya ingin mereka lebih baik, lebih banyak yang peduli. Tentunya memberikan fasilitas kesehatan, fasilitas belajar, dan fasilitas yang benar-benar mereka butuhkan. Yang lebih utama lagi, akses jalan. Karena memang Miris sekali keadaan untuk kesana, sangat jauh sekali jarak dari rumah mereka untuk menuju tempat belajar, sementara jalanannya tidak sebagus jalanan sebagaimana semestinya,” harapnya.

Pesan Singkat untuk SAD, Oleh Rahma Yuniarsih R

FOTO: Rahma Yuniarsih R, Penulis Buku/Novelis Jambi
FOTO: Rahma Yuniarsih R, Penulis Buku/Novelis Jambi

Adik-adik tetaplah disana. Tetaplah belajar dengan giat dan pantang menyerah. Tetaplah periang tanpa kenal banyaknya pencitraan orang kota.

Tetaplah rendah hati dan bersyukur tanpa harus peduli apa merek barang teman-teman kalian, tanpa harus peduli berapa harga tas, ataupun sepatu yang digunakan teman-teman kalian, tanpa harus peduli keegoisan anak kota yang minta barang mewah tanpa tahu susahnya orang tua.

Tetaplah bermain di desa kecil penuh cerita itu. Tetaplah menjaga pohon-pohon lalu mendapat buah segar dari hasil kebun sendiri, karena di kota buah-buahan tidak sesegar di desa. Tetaplah memakan ikan dari desa kalian sendiri, karena di kota ikan banyak pengawetnya. Tetaplah mandi di sungai, karena di kota sungai terkadang dijadikan tempat pembuangan limbah.

Tetaplah bermain sesuka hati kalian, karena di kota anak-anak lebih suka bermain di mall dan sibuk seharian dengan handphone mereka. Tetaplah berlari-lari dan mengayuh sepeda, karena di kota banyak keributan akibat kemacetan dan polusi dimana-mana.

Tetaplah tinggal bersama orang tua kalian walau sekalipun hanya dilindungi gubuk tua, karena dikota banyak orang-orang yang lupa pada orang tua karena kesibukan mereka, lalu harta membuat mereka lupa bahwa orang tua adalah segalanya.

Bagunlah desamu, belajarlah dengan sungguh-sungguh, karena di kota lebih banyak buku dan fasilitas, tapi kebanyakan orang kota tidak mau berusaha. Semoga pakaian lusuh kalian di kemudian hari berganti menjadi sebuah kehormatan, mengingatkan kalian akan masa kecil kalian, lalu membantu banyak orang. Karena walaupun kalian tetap di desa dan tidak ke kota.

Orang desa tetap boleh bermimpi bahkan lebih tinggi dari orang kota. Karena tidak ada yang terlalu kecil untuk menjadi besar, dan tidak ada yang terlalu rendah untuk menjadi tinggi.

(Bahara Jati)

DRadio 104,3 FM Jambi