Beranda Akses Menebar Cinta Sains, Si LiSa Modis Pisan Gandeng Konsep MIKiR

Menebar Cinta Sains, Si LiSa Modis Pisan Gandeng Konsep MIKiR

JAMBI, AksesNews – Sains bagi sebagian peserta didik adalah sebuah pembelajaran yang kurang menarik yang sukar karena mesti menganalisa dan menghafal dari nama latin juga mesti memahami proses terjadinya sesuatu.

Sekolah Dasar (SD) Negeri 131/IV Kota Jambi menyelenggarakan kegiatan diseminasi Modis Pisan secara luring bersama lembaga penjaminan mutu pendidikan (LPMP) Provinsi Jambi juga di monitoring dan dievaluasi langsung oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) Bandung ini, mengusung tema Sehari Bersama LiSa (Literasi Sains).

Kegiatan di hadiri dengan 30 Peserta didik dan tetap sesuai anjuran protokol kesehatan di masa Covid-19 ini; memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan setelah melakukan suatu kegiatan.

Literasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis.

Literasi Sains disini bertujuan untuk menumbuhkan literasi peserta didik dalam sains yaitu berupa kritis berfikir dalam menerima sesuatu hal baru dengan menganalisa, mencoba mencari benar atau tidaknya sebelum menyebarkan atau mengshare kepada yang lainnya.

Modis Pisan adalah akronim dari Mobil Pendidikan Semua Pintar Sains, dimana tujuan dari Modis Pisan ini adalah membantu guru IPA atau guru kelas di sekolah dasar untuk menanamkan bahwa IPA /Sains bukanlah hanya cerita belaka, tetapi sesuatu yang bisa langsung di praktekan juga bisa diamati minimal dengan mendengar, melihat dan merasakan/mencoba.

Disamping itu tidak semua sekolah memiliki laboran atau petugas laboratorium yang membuat alat-alat peraga IPA/KIT IPA tidak digunakan secara maksimal, ke depannya LPMP juga akan memfasilitasi kegiatan ini dengan menyediakan mobil pintar seperti Modis Pisan yang akan dioperasikan dengan jadwal dan alat-alat peraga yang bisa di diseminasikan langsung kepada sekolah-sekolah.

Selain itu, tujuan lainnya dari Modis Pisan adalah menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap matapelajaran IPA yang dianggap sulit dan membosankan dengan memberikan kegiatan pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan atraktif.

Kegiatan kali ini diseminasi modis pisan ini menampilkan narasumber dari guru yang telah mengikuti pelatihan modis pisan yaitu Nurfaidah,S.Pd.SD guru di SDN. 131/IV Kota Jambi berkolaborasi dengan ibu Yeti Fatria Dewi dari LPMP provinsi Jambi beserta staf LPMP dan juga di monitoring langsung oleh personil dari P4TKIPA Bandung.

Si LiSa yang Ikut MIKiR

Kegiatan literasi sains di awali dengan demo meniup lilin, bukan sembarang meniup lilin. Yang biasanya meniup lilin menggunakan mulut, kali ini meniup lilinnya menggunakan alat yang terbuat dari botol mineral bekas dengan ukuran besar yang telah dirangkai dengan beberapa bahan lainnya yaitu balon yang diaplikasikan di ujung botol yang telah dipotong dengan cara menutup ujung botol tersebut dengan balon yang ikat dengan karet gelang. Selaain botol bekas dan balon, juga memerlukan lilin yg telah dipotong sepanjang mulut botol jika direbahkan dan korek api.

Saya menggunakan konsep MIKiR dari Tanoto Foundation dalam menyusun skenario kegiatan demo ini agar kegiatan sistematik, berkesan dan runtut dari mulai peserta didik mengalami (M) yaitu dengan mengamati apa yang terjadi saat balon pada botol yang diarahkan ke lilin yang menyala di pukul , kemudian mereka merangkai sendiri dan mencobanya.

Setelah itu mereka melakukan interaksi (I) berupa tukar pikiran bersama temannya mengapa lilin yang menyala bisa padam ataupun tidak padam ketika bagian balon di ujung botol dipukul. Antusias mereka pun tampak saat di suruh untuk menampilkan percobaan mereka kedepan menggunakan alat yang mereka rangkai sendiri,dan mempresentasikan kesimpulan didepan teman-temannya (Komunikasi/Ki).

Demo pertama ditutup dengan kegiatan refleksi ( R ) yaitu, menyimpulkan bersama-sama konsep IPA dari percobaan yang dilakukan yaitu bahwa udara yang berada di dalam botol bergetar akibat pukulan pada permukaan balon diujung botol menghembus keluar mulut botol dan memadamkan api lilin yang menyala.

Berhasil dan tidaknya, dipengaruhi dengan kencang atau tidaknya permukaan balon yang dipasang, jika dipasang kendor maka api lilin akan padam dengan beberapa pukulan yang kuat atau bahkan tidak akan padam. Jarak dan kuatnya pukulan juga berpengaruh terhadap proses udara bergetar yang meniupkan lilin menyala ini.

Diseminasi ini diselingi dengan sesi door prize yang hadiahnya telah disiapkan oleh pihak P4TKIPA ini berupa buku agenda, gantungan kunci, pin, gantungan Kompas,Kaca pembesar dan tas P4TKIPA, menambah antusias dan serunya literasi sains.

Tekanan Udara vs Massa Air

Sesi demo makin seru ketika narasumber menampilkan percobaan yang menurut peserta didik adalah sulap, dan membuat mereka semakin penasaran untuk memecahkan solusi saat narasumber memberikan tantangan berupa tindakan apa yang harus dilakukan agar air pada permukaan corong masuk dengan mudah kedalam botol kosong.

Sebelum melakukan demo ini narasumber telah menyiapkan dan mencoba berhasil atau gagal percobaan dilakukan. Percobaan kedua adalah tetap menggunakan botol air mineral bekas yang tutup botolnya di lubangi seukuran ujung corong yang paling kecil dan di tempelkan dengan tutup botol menggunakan lem araldite/lem Alteco/ plastisin guna menutup mulut botol hingga udara tidak masuk.

Setelah dirangkai botol dan corong yang telah menempel kuat, maka tuangkan air sebanyak kapasitas corong. Maka air tidak akan mengalir ke botol karena udara yang terperangkap didalam botol menahan masuknya air. Peserta didikpun berdiskusi dengan teman sebelahnya untuk memecahkan tantangan tersebut, memikirkan cara apa yang tepat agar air bisa masuk ke dalam botol.

Akhirnya, beberapa peserta didikpun memberanikan diri mencoba memasukan air kedalam botol dengan menggunakan pipet atau sedotan yang dimasukan kedalam botol. Mereka bersorak gembira dan bangga saat air mengalir masuk ke dalam botol.

Adalah Queenza, siswi kelas 5 yang begitu lugas dan berani menutup kegiatan demo dengan menyampaikan kesimpulan dari dua demo yang telah dilakukan.

“Percobaan pertama adalah percobaan tentang meniup lilin menggunakan botol , udara yang dipukul didalam botol bergetar keluar dan memadamkan lilin yang menyala dengan syarat lilin diletakan sejajar, jaraknya pendek dan balon yang temple harus kencang. Sedangakn percobaan kedua yaitu udara memiliki tekanan, udara didalam botol yang kosong menahan air pada corong masuk kedalam botol,” ujar Queenpercaya diri.

Dan diapresiasi dengan hadiah berupa tas P4TKIPA yang semakin membuat senyumnya lebar. Semoga kegiatan demo IPA seperti ini menjadi motivasi para guru untuk lebih kreatif dan inovatif mendesain pembelajaran juga media pembelajaran yang menarik. Supaya peserta didik juga lebih mencintai dan menyukai pembelajaran IPA/Sains.

PENULIS: Nurfaidah, S.Pd.SD

DRadio 104,3 FM Jambi