Beranda Akses Serikat Mandiri Batanghari, Siapa Mereka Sebenarnya?

Serikat Mandiri Batanghari, Siapa Mereka Sebenarnya?

Dok. Humas Provinsi Jambi/facebook.com
Dok. Humas Provinsi Jambi/facebook.com

JAMBI, AksesNews – Penangkapan kelompok Serikat Mandiri Batanghari (SMB) oleh Polda Jambi dibantu oleh Korem 042/Gapu pada 18-20 Juli 2019 sudah ditetapkan sebanyak 59 anggota SMB ini sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polda Jambi.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jambi, Kombes. Pol. Edi Faryadi menyatakan bahwasanya kelompok kriminal ini (SMB) anggotanya berasal dari luar provinsi Jambi.

“Mereka setelah kita data, tidak ada yang memiliki KTP ataupun identitas dari Provinsi Jambi. Ini terlihat dari tim terpadu yang mendata mereka, jadi semuanya ini berasal dari luar provinsi Jambi,” jelas Edi, Minggu (21/07/2019).

Tim Ditreskrimum tetap melakukan pemeriksaan dan melengkapi berkas-berkas untuk pengembangan lebih dalam lagi. “Jika nanti ditemukan ada pengembangan, maka kita akan kembangkan ke siapapun pemilik senjata, siapa yang memasok senjata dan siapa donaturnya,” sebutnya.

Panggilan untuk Pemimpin dengan Sebutan “Yang Mulia”

Kejanggalan dari panggilan kepada seorang pemimpin dari kelompok SMB ini diungkapkan oleh Edi. Tidak sama dengan sebutan di organisasi, kelompok atau lembaga lainnya yang biasa memanggil kepada pimpinan dengan sebutan Ketua, Komandan, Direktur dan sebagainya.

Kelompok SMB ini yang di pimpin oleh Muslim dipanggil anggotanya dengan sebutan “Yang Mulia” dan “Bunda Ratu” untuk panggilan ke istri Muslim yang bernama Deli Fitri. “Kalau dikelompoknya, mereka menyebutkan “Yang Mulia” untuk Muslim dan “Bunda Ratu” untuk istrinya (Deli Fitri),” kata Edi.

Selain itu, Edi pun menjelaskan, peran Muslim ini sebagai ketua kelompok dan para anggotanya patuh terhadap dirinya. Sementara itu, Istri Muslim berperan sebagai Sekretaris dan Bendahara. Deli Fitri juga penggerak dari pada semua kegiatan yang mereka lakukan.

Setiap kegiatan dilakukan oleh SMB ini, sampai penyerangan terhadap masyarakat dan Satgas Karhutla oleh anggotanya Muslim, Edi mengatakan “menurut keterangan hasil pemeriksaan, mereka akan diancam kalau tidak ikut dalam melakukan penyerangan itu,” ungkapnya.

FOTO: Sebanyak 18 anggota SMB berhasil ditangkap dan sudah diamankan di Mako Brimob, Sabtu (20/07/2019).
FOTO: Sebanyak 18 anggota SMB berhasil ditangkap dan sudah diamankan di Mako Brimob, Sabtu (20/07/2019).

Benarkah SMB Kelompok Tani atau Koperasi?

Direskrimum Polda Jambi, Edi Faryadi menjelaskan temuan di Basecamp SMB di lokasi tidak ada alat pertanian dilokasi tersebut, baik berupa cangkul, sekop maupun bibit.

“Memang tidak ada satupun alat pertanian baik cangkul, sekop ataupun bibit nggak ada. Jadi tidak ada yang menunjukkan identitas mereka itu adalah kelompok petani. Justru yang ada senjata, bambu runcing, Parang, pisau dan semuanya. Ini menandakan mereka bahwa mereka adalah kelompok kriminal bersenjata,” jelas Edi.

Muslim bersama anggotanya dengan nama SMB pada April 2018 mengklaim lahan di lokasi WKS di Distrik IV, kecamatan Mersam dengan dalih lahan tersebut adalah hak mereka dari program Trans Swakarsa Mandiri (TMS). Padahal Program TMS sendiri sudah berakhir sejak tahun 1994.

Selain itu, Muslim juga mengklaim lahan tersebut warisan dari kelompok Indo Tani dan siap bersengketa dengan PT WKS, pemegang izin pengelolaan lahan kerja sama dengan lima koperasi di Batanghari.

Kelompok SMB sendiri tidak pernah terdaftar secara resmi di Kesbangpol Batanghari. Namun pada 27 April 2018 SMB pernah melaporkan kelompoknya dengan nomor laporan 220/441. Hanya saja, SMB tidak melengkapi bahan-bahan lainya hingga pihak Kesbangpol Batanghari tidak mengeluarkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT).

Pada 10 Juni, 2018 SMB menduduki lahan di areal distrik IV dengan mendirikan ribuan pondok. Bahkan pada 21 Juni 2018, SMB membakar salah satu POS WKS. Hingga dua anggotanya ditahan Polres Batanghari.

Pada 20 September masih di 2018, ratusan anggota SMB bersama pimpinannya Muslim mengepung Polres Batanghari. Mereka meminta pihak kepolisian membebaskan dua orang anggotanya. Saat itu, dihadapan awak media, Muslim mengaku tidak tahu apa alasan anggotanya ditangkap.

Dari berbagai tingkah laku yang dilakukan kelompok SMB ini. pemerintah Provinsi Jambi selalu berupaya untuk mencari solusi. Namun SMB ini tidak pernah konperatif dalam masalah ini. Selain itu, SMB ini hanya sekali hadir dalam rapat bersama pemerintah daerah.

“Muslim baru satu kali hadir rapat di kantor Bupati Batanghari dari sekitar 26 kali rapat, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi,” kata Ketua Tim Terpadu Provinsi Jambi, Sigit pada Konferensi Pers di Mapolda Jambi 19 Juli 2019 lalu.

FOTO: Kapolda Jambi, Irjen. Pol. Muchlis AS saat Konferensi Pers di Mapolda Jambi, Jumat (19/072019).
FOTO: Kapolda Jambi, Irjen. Pol. Muchlis AS saat Konferensi Pers di Mapolda Jambi, Jumat (19/072019).

Polisi: SMB Murni Kelompok Kriminal

Setahun yang lalu, Kamis 21 Juni 2018, Pos 108 pengamanan milik PT WKS yang berlokasi di Distrik VIII, Kabupaten Batanghari pernah dibakar massa oleh kelompok SMB.

Sedangkan di tahun 2019 ini, kelompok SMB ini juga berulah yang mana pada 10 Juli 2019 anggota SMB menyerang Kepala Desa Sengkati Baru, Kecamatan Mersam di Belanti Jaya. Selanjutnya, Kelompok SMB ini pada 13 Juli menyerang tim Karhutla.

Dengan tindakan berutalnya, kelompok SMB ini ini diketahui sebagai kelompok kriminal yang mengintimidasi, pembakaran, perusakan dan kekerasan terhadap masyarakat dan petugas dan karyawan PT WKS.

Ketika penangkapan anggota SMB oleh tim Polda Jambi, disita puluhan senjata api rakitan, senjata tajam dan peluru tanjam dengan kaliber 556 mm.

“Semua bentuk daripada tindakan mereka terhadap masyarakat yang sudah melebihi batas kemanusiaan yang dilakukan secara masif dan terorganisir,” kata Kapolda Jambi, Irjen. Pol. Muchlis AS ketika Konferensi Pers di Mapolda Jambi 19 Juli 2019 lalu.

Selain tindakan kekerasan yang di lakukan, pergerakan mereka mengatas namakan penduduk lokal dan Suku Anak Dalam (SAD), Namun, SAD dan masyarakat tersebut hanya di jadikan tameng bagi mereka.

“Mereka merekrut dari berbagai tempat SAD untuk ditaruh bagian depan sebagai bumper. Mereka dan anggotanya menyebar ke beberapa daerah,” kata Sigit.

Sejak tahun 2018 sampai sekarang, SMB ini sudah dilaporkan ada 14 kali dilaporkan di Polres Batanghari, Polres Tebo, Tanjab Barat dan Polda Jambi. (Team AJ)

DRadio 104,3 FM Jambi