Beranda Akses Guru-guru Tangguh dari Jambi di Tengah Pandemi Covid-19

Guru-guru Tangguh dari Jambi di Tengah Pandemi Covid-19

JAMBI, AksesNews – Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dimanfaatkan oleh guru saat ini. Inovasi dan kreatifitas guru mulai diasah untuk lebih mengenal berbagai aplikasi guna memudahkan mereka dalam mengajar.

Program PINTAR Tanoto Foundation Provinsi Jambi telah melatih guru SD/MI dan SMP/MTs di Kabupaten mitra seperti Tanjung Jabung (Tanjab) Timur, Tanjab Barat, Batanghari, Tebo dan Kabupaten diseminasi Program PINTAR, yaitu Sarolangun.

Salah satu materi yang dilatihkan kepada guru adalah membuat big book atau buku besar. Guru kelas awal berlomba untuk membuat bahan ajar mandiri, mereka menggambar, menulis narasi hingga memindahkan ke PDF dan dibuat versi digitalnya.

Membuat Buku Cerita Anak Digital

Sebelum membuat buku besar, Dentri Yangsi, guru SDN 61/X Talang Babat, Tanjab Timur membuat judul dan isi cerita. Kemudian Ia menyiapkan bahan-bahan untuk membuatnya, seperti kertas bekas kalender, spidol, maupun pensil, dan penghapus.

“Biasanya membuat outline dulu, agar tidak ke mana-mana ceritanya,” ujar Dentri melalui sambungan telepon, Jumat, (21/01/2022).

Media pembelajaran yang ia buat tersebut digunakan agar siswa kelas awalnya betah membaca dan memahami buku. Sebagai guru, Dentri juga mencari referensi terkait materi yang akan disampaikan kepada siswanya.

Judul yang ia tulis pada buku besar tersebut adalah Bermain Sepeda di Minggu Pagi. “Kebetulan saya dan keluarga suka bersepeda, kenapa tidak dijadikan tulisan saja,” ujarnya.

Kebetulan teman anaknya juga suka bersepeda, sehingga hal tersebut dijadikan bahan cerita. Lahirlah cerita bersepeda di hari minggu yang ditulis Dentri.

Sebagai Bahan Pembelajaran

Apa yang dilakukan Dentri juga sama dilakukan oleh Erni Yanti, guru SDN 111 Muara Bulian, Batanghari, ia membuat judul Bima Pergi ke Taman Rimba.

Buku bacaan digital yang ia buat, dijadikan bahan pembelajaran di kelas. Erni menceritakan pengalaman mengajar dan memanfaatkannya kepada siswa.

“Anak-anak jadi suka,” ujar Erni mengawali percakapan.

Selanjutnya Erni menampilkan buku cerita yang dibuatnya kepada anak-anak. “Mereka sangat antusias mendengarkan,” katanya.

Satu halaman demi halaman ia sampaikan. “Melatih anak-anak menjadi pendengar yang baik juga,” ujarnya.

Tindak lanjut dari pembelajaran, Erni meminta siswa membuat buku cerita. Kegiatan pertama adalah dengan membuat karangan dengan tema “Kegiatan sehari-hari”.

Lalu pada akhir subtema dibuatlah tugas proyek siswa yaitu membuat buku cerita. Pembuatan buku cerita sebagai penerapan dari materi “ide pokok dan kalimat pengembang”.

Tantangan yang Dihadapi

Selain harus konsisten, membuat bahan bacaan untuk anak juga memikirkan tema, judul dan jalan cerita.

“Jadi harus fokus dan konsisten,” ujar Titien Suprihatien, guru SMPN 11 Batang Hari, yang juga memproduksi flipchart dan scrapbook untuk bacaan siswa.

“Terkadang ya kalau tidak diunggah ke internet, hanya dipajang di kelas karya, jadi siapapun bisa baca karya anak-anak,” kata Titien yang juga Fasilitator Nasional Tanoto Foundation.

Titien menambahkan tantangan berikutnya adalah menyiapkan bahan seperti foto atau gambar dan materi yang akan ditulis. “Punya bahan catatan, apa yang akan ditulis,” ujarnya.

Sedangkan, Dedi Hendriyanto, guru SMPN 21 Batanghari menyampaikan, tantangan dalam membuat e-book di pubhtml5.com ini, guru harus kreatif dan inovatif isinya, agar siswa tidak bosan membaca.

“Di samping itu saya juga harus mendesain sendiri tampilan yang menarik agar siswa betah membaca,” pungkasnya. (Rls/*)