Beranda Akses Lansia di Panti Jompo Banyak Bertanya Saat Sosialisasi Pemilu 2019

Lansia di Panti Jompo Banyak Bertanya Saat Sosialisasi Pemilu 2019

KOTAJAMBI, AksesNews – Relawan Demokrasi (Relasi) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jambi pada Basis Kebutuhan Khusus bergerak turun ke Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Provinsi Jambi. Puluhan lanjut usia (Lansia) mendengar dan melihat pemaparan pendidikan pemilihan dari Komisioner KPU Kota Jambi, Abdul Rahim.

Pada agenda tersebut, Abdul Rahim di depan para Lansia meminta kepada mereka untuk semangat menyalurkan hak suaranya, meskipun saat ini berada di usia ‘senja’.

“Usia senja tidak menjadi halangan untuk semangat dalam hajatan demokrasi. Kalau bisa, berpenampilan menarik dan baru nanti saat pencoblosan. Saya ingat pengalaman saat di Kerinci, pencoblosan dijadikan hajatan yang sangat penting. Karena hanya dilaksanakan lima tahun sekali,” kata Abdul Rahim, Rabu (20/02/2019).

Selain itu, Desy Arianto salah satu narasumber yang merupakan mantan Komisioner KPU Provinsi Jambi mengatakan agar para Lansia untuk mengenal lima warna surat suara (Susu), karena Pemilu 2019 ini terdapat lima kertas yang akan dicoblos dan di mungkinkan akan menyulitkan para Lansia.

“Harus kenal warna Susu, biar tahu siapa yang akan dipilih. Gunakan hati nurani, saat melakukan pemilihan, karena Pemilu sebelumnya, tidak sebanyak ini kertasnya,” kata Desy.

Tentunya pada saat sosialisasi tidaklah semudah perencanaan, karena bayak faktor dari keluhan penghuni panti yang harus di pertimbangkan oleh KPU Kota Jambi. Bukan sekedar bingung dengan warna susu, lokasi TPS yang dekat pun juga di pertimbangkan karena bagi kondisi lansia yang rentan juga beresiko bagi mereka.

“Kalau bisa, TPS kami sendiri. Jadi tidak merepotkan nenek dan kakek di sini. Kalau Pemilu sebelumnya, kami angkut dengan menggunakan ambulance. Jika bisa dekat, dan di panti inilah,” kata Amirul, perwakilan PSTW.

Tidak hanya warna susu dan lokasi TPS, kondisi peghuni Panti yang menyandang disabilitas sensorik mata (gangguan penglihatan) juga diutarakan saat itu. Mengingat kondisi disabilitas diperoleh mereka karena faktor usia, bukan bawaan lahir. Jadi tidak familiar dengan kertas suara berbentuk braile yang disediakan oleh KPU.

“Gangguan penglihatan yang diderita oleh kakek dan nenek di sini kan bukan bawaan lahir. Jadi tidak biasa dengan kertas yang disediakan KPU untuk tuna netra. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut,” kata Amirul.

Desy menjawab pertanyaan Amirul dengan mengatakan bahwa pihak KPU Kota Jambi akan mendatangi lokasi panti dan menjelaskan mekanisme pendampingan saat pencoblosan.

“Boleh didampingi, asalkan yang mendampingi bisa menjaga rahasia. Apa yang dipilih serta siapa yang dicoblos tetap menggunakan azaz rahasia,” pungkasnya. (Alpin)

DRadio 104,3 FM Jambi