‘DeLik SaBum’, Tumbuhkan Rasa Peduli Anak Berkebutuhan Khusus Terhadap Lingkungan

Oleh: Nurfaidah, S.Pd.SD, M.Pd

JAMBI, AksesNews – Sekolah Dasar Negeri 131/IV Kota Jambi adalah salah satu sekolah Inklusi yang ada di Kota Jambi. Memiliki lebih kurang 34 peserta didik berkebutuhan khusus dari kelas 1 sampai kelas 6, diantara kekhususannya yaitu; autism, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) , tuna rungu, slow learner dan disleksia.

Dengan beragam karakteristik peserta didik ini tentu saja menjadikan pendampingan dan fasilitasi pembelajaran menjadi penuh warna. Pada impelementasi Kurikulum Merdeka di sekolah saya adalah ditahun kedua, sementara untuk kelas yang saya ampu yaitu kelas 5 adalah tahun pertama pelaksanaannya.

Sudah semestinya tetap berproses mengadaptasi dalam persiapan administrasi kelas dan pembelajaran, khususnya penerapan P5 nya. Tentu saja memiliki keresahan dan tantangan tersendiri dalam penerapannya. Pada tahun ini, kami mengangkat tema P5 (Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila) adalah Gaya Hidup Berkelanjutan, dimana akan mengangkat masalah sampah di lingkungan sekolah dan rumah beserta solusi yang akan di pecahkan bersama peserta didik khususnya kelas saya yaitu kelas 5.

Adapun P5 ini mengusung topik gerakan “DeLik SaBum” yakni gerakan Desainer Cilik Sayangi Bumi. Dengan harapan gerakan ini adalah dapat menumbuhkan kepedulian peserta didik pada lingkungan sekitar, kepedulian peserta didik atas sampah yang mesti dibuang ke tempat sampah dan kepedulian untuk mengurangi sampah melalui implementasinya berupa pembuatan kreasi dari barang bekas menjadi baju adat beberapa provinsi yang ada di Indonesia khususnya juga bagi para peserta didik berkebutuhan khusus yang notabene nya masih perlu pendampingan dalam kemandirian, terlebih dalam kebersihan lingkungan.

Dengan adanya mata pelajaran Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila, tentu saja menjadi sebuah tantangan dalam proses pelaksanaan setiap timeline yang telah dirancang penerapannya terhadap peserta didik, terlebih pada peserta didik berkebutuhan khusus.

Tantangan yang ditemui pada pelaksanaannya adalah berupa adalah proses pembuatan projectnya, beberapa peserta didik dalam kelompoknya kurang bertanggung jawab dalam pengerjaannya khususnya PDBK (peserta didik berkebutuhan khusus), waktu yang disepakati juga hanya satu hari dalam seminggu dengan durasi 7 JP.

Sehingga ketika sedang asyik mengerjakan ternyata waktunya telah habis. Dalam hal ini penerapan sesuai temanya adalah reuse, reduce dan recycle sampah untuk dimensi nilainya dapat ditonjolkan kebhinekaan globalnya yakni dengan membuat baju adat beberapa provinsi dari barang bekas.

Sementara pada tantangan dalam hal proses pembuatannya, saya melakukan strategi refleksi diakhir kegiatan berupa urun gagasan tentang kendala yang dialami oleh setiap kelompok, kemudian di berikan dan memecahkan kendala tersebut dengan kesepakatan bersama yang diambil ketika urun pendapat ini. Respon dari kegiatan dan strategi ini, murid lebih merasa diperhatikan dan kembali bersemangat dalam menyelesaikan projectnya.

Adapun strategi dalam mengerjakan project yang telah direncanakan adalah memiliki 4 tahapan yakni; temukan, bayangkan, lakukan dan bagikan. Pada tahap temukan berisi kegiatan berupa jalan santai bersih, apa yang kamu ketahui tentang sampah, darimana sampah berasal? dan kisah Si Paus. Tahap bayangkan kegiatannya berupa perjalanan sampahku.

Tahap lakukan kegiatannya berupa membuat rencana aksi nyata dan membuat kreasi dari sampah. Dan pada tahap bagikan berupa umpan balik terhadap karya yang dibuat, latihan presentasi, persiapan pameran karya dan pameran karya.

Dari implementasi P5 yang saya lakukan sangat banyak sekali manfaat, inspirasi ataupun dampak positif baik untuk saya sebagai guru, lingkungan sekolah maupun untuk peserta didik dan tentunya untuk PDBK. Diantaranya yaitu mulai berkembang peduli akan kebersihan peserta didik dimulai dari area mereka duudk dikelas sampai ke area besar yaitu lingkungan sekolah.

Selain itu, yang terpenting disini adalah pengalaman mereka dalam melakukan sebuah project tentunya dimulai dari observasi, menemukan masalah, mencari solusi akan masalah, merencanakan project yang akan dilakukan dan tentu saja kerja sama ataupun kolaborasi antara anggota kelompok.

PENULIS: Guru SDN.131/IV Kota Jambi, Nurfaidah, S.Pd.SD, M.Pd

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here