Beranda Akses Refleksi Kemerdekaan: Tiga Musim di Jambi, Kemarau, Hujan dan Musim Asap

Refleksi Kemerdekaan: Tiga Musim di Jambi, Kemarau, Hujan dan Musim Asap

ARTIKEL, AksesNews – Potensi yang besar seakan membuat bangsa lain iri, gugusan pulau yang menyimpan segala potensi rempah-rempah, hasil pangan, hasil hutan, minyak dan gas (Migas) serta lain-lainnya menjadi alasan kedatangan bangsa asing guna merampas semua kekayaan, hingga dalam waktu yang tidak singkat bangsa ini mampu lepas dan merdeka.

Namun yang terjadi dikemudian hari kekayaan alam yang dimanfaatkan dengan tidak tepat malah menjadi bencana walaupun telah dikelola oleh bangsa kita sendiri. 74 tahun yang lalu bangsa ini lepas dari belenggu penjajahan yang sangat tidak manusiawi. Mulailah semua kekayaan ini dapat dikelola oleh bangsa ini, namun tidak tepat pula dikatakan semua kekayaan telah dinikmati oleh setiap penduduk bangsa ini?

Beberapa dekade terakhir ketimpangan pengelolaan sumber daya alam telah menuai dampak yang sangat signifikan, serta tidak dapat disembunyikan. Sebagai contoh kebakaran hebat yang terjadi pada tahun 2015 di sebagian besar Pulau Sumatra telah menimbulkan kabut asap yang menyebar ke semua penjuru bahkan ke negara tetangga.

Hal ini sebagai deskripsi bagaimana pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di negeri tercinta ini. Prilaku komsumtif seakaan membuat buta serta menghalalkan segala cara dalam konteks penguasaan SDA. Hingga hari kemerdekaan yang ke-74 ini, kabut asap mulai menyelimuti beberapa daerah di Provinsi Jambi.

Penyebabnya tetap sama pada yang terjadi di tahun 2015. Mungkinkah kejadian yang sama akan terulang kembali?

Sangat mungkin rasanya jika tidak ada tindatan serius dalam menanggapi hal ini, yang dapat kita saksikan pada hari ini masyarakat kembali harus menjalani hari-hari diselimuti kabut asap akibat kebakaran gambut yang tentunya akan sangat merugikan dari sisi kesehatan, ekonomi dan lainnya.

Sebelum menyudahi musim asap, masyarakat mesti bersiap menghadapi musim hujan dengan kondisi yang berbeda dari yang sewajarnya akibat ketimpanagan pengelolaan SDA. Sehingga berdampak pada perubahan iklim yang signifikan. Kini kita mesti bersiap menyongsong musim hujan, tentunya bersama dengan segala potensi bencana baik itu banjir, tanah longsor dan lain sebagainya.

Sejatinya bangsa ini hanya memiliki dua musim, namun saat ini seolah bertambah satu musim yang hampir setiap tahun menghampiri kita, yakni Musim Asap. Perlu kita tegaskan hari ini asap bukanlah musim, tetapi bencana yang terjadi akibat ketidakpastian pengelolaan SDA yang merusak ekosistem sehingga munculnya bencana-bencana ekologis.

Dirgahayu Indonesia ku, dirgahayu tanah surgaku, semoga tanah surga tak berubah menjadi sebaliknya. Hari kemerdekaan ini hendaknya menjadi refleksi bagi kita semua untuk melihat segala bentuk ketimpangan pengelolaan SDA di negeri ini. Bukan hanya perayaan seremonial belaka.

PENULIS: Mahasiswa Universitas Batanghari (Unbari), M. Stiby yang tergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Gema Cipta Persada (Gitasada) Unbari

DRadio 104,3 FM Jambi