Beranda Akses BKKBN Jambi Bersama Zulfikar Ahmad Sosialisasi Pencegahan Stunting

BKKBN Jambi Bersama Zulfikar Ahmad Sosialisasi Pencegahan Stunting

BUNGO, AksesJambi.com – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jambi tengah gencar melakukan sosialisasi pendataan keluarga 2021 untuk perencanaan kesejahteraan keluarga Indonesia.

Bersama mitra kerjanya anggota DPR RI, BKKBN Provinsi Jambi mensosialisasikan penguatan Program Bangga Kencana Tahun 2021, di Dusun Rantau Makmur, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo, Jambi, Sabtu (16/10/2021).

Kali ini, sosialisasi mengangkat masalah sosialisasi pencegahan stunting atau kekurangan gizi kronis yang dihadiri oleh anggota DPR RI asal Provinsi Jambi, Drs. H. Zulfikar Ahmad, pihak terkait dan warga setempat. 

Pada kesempatan tersebut, Zulfikar menyampaikan pentingnya pendataan keluarga dalam penanganan masalah stunting yang ada di Jambi, khususnya Bungo. Komisi IX DPR RI akan terus berkolaborasi dan mendukung BKKBN dalam permasalahan stunting ini.

“BKKBN saat ini salah satu fokus utamanya adalah penurunan angka stunting. Secara nasional, angka stunting ini masih sangat tinggi, apalagi di masa pandemi, stunting harus terus diperhatikan karena dapat membahayakan,” ungkap Zulfikar.

Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara mencegah terjadinya pernikahan dini. BKKBN harus terus ber koordinasi dengan KUA untuk memantau agar kasus pernikahan dini ini dapat dikendalikan.

Sementara itu, Kepala BKKBN Provinsi Jambi, Munawar Ibrahim S.Kp MPH mengatakan masyarakat harus diberi edukasi bersama melalui program-program yang dibuat BKKBN. Program itu dibuat berpedoman pada Peraturan Presiden No. 72 tahun 2021 dan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting yang dijadikan landasan dasar.

“Perempuan yang pada masa remaja tidak tercukupi kebutuhan gizinya, hamil lalu melahirkan di usia muda memiliki potensi melahirkan anak yang stunting,” jelasnya.

Sasaran program stunting meliputi anak remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0-9 bulan. Jika semua pihak bekerja sama mengatasinya, masalah gizi dan masalah kemanusiaan dapat teratasi.

Selain itu, BKKBN juga memberikan rekomendasi perencanaan membangun keluarga. Menurut ilmu kesehatan, umur ideal yang matang secara biologis dan psikologis adalah 21 tahun bagi wanita, dan 25 tahun bagi pria.

“Usia itu dianggap masa yang paling baik untuk berumah tangga, karena rata-rata sudah matang dan berpikir dewasa. Selain itu juga membina hubungan antar pasangan, dengan keluarga lain maupun kelompok sosial,” kata Munawar.

Di balik pernikahan ada persoalan psikologis yang harus diperhatikan, yaitu psikis dan mental kedua pasangan yang menikah, terutama bagi perempuan. Menikah berkaitan dengan organ reproduksi yang matang. Merencanakan kelahiran anak pertama sangat penting, persiapan menjadi orang tua.

“Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekurangan gizi kronis. Diantaranya, kekurangan asupan gizi, sehingga tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik, tapi juga perkembangan otak anak. Ini sangat berpengaruh pada kemampuan dan prestasi anak-anak di sekolah,” pungkasnya.

Agenda tersebut diakhiri dengan penyerahan bantuan kepada warga setempat yang hadir. Bantuan diserahkan oleh anggota DPR RI Zulfikar Ahmad dan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jambi Munawar Ibrahim. (Bjs/*)

DRadio 104,3 FM Jambi