Beranda Akses Workshop Wartawan BEI Jambi: Kondisi Ekonomi Global hingga Pasar Saham Indonesia

Workshop Wartawan BEI Jambi: Kondisi Ekonomi Global hingga Pasar Saham Indonesia

JAMBI, AksesNews – Workshop Pasar Modal untuk Wartawan Jambi tahun 2021 yang yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX) perwakilan Jambi secara daring suskes terlaksana, Kamis (16/09/2021).

Kegiatan tersebut, diikuti oleh puluhan Wartawan Daerah Jambi yang disajikan berbagai informasi terkait Pasar Modal oleh Kepala Perwakilan BEI Jambi, Fasha Fauziah dan Equty Analyst Indo Premier Sekuritas, Rifqi Satria Dinandra.

Pada sesi kedua, Rifqi yang menjadi pembicara, menyampaikan 4 pembahasan, yalni Ekonomi Global, Ekonomi Indonesia, Pasar Saham Indonesia dan Outlook Pasar.

Kondisi Global
Melihat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan Global, Rifqi menyampaikan perbandingan pertumbuhan perekonomian tahun ke tahun (YoY) Indonesia dengan berbagai negara yakni Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Tiongkok, Filipina, Mexico, Thailand dan Filipina.

“Pada Quarter ke Dua tahun 2021, Indonesia mengalami kenaikan sebesar 7,1 persen dibandingkan Quarter pertama yang hanya -0,7 persen. Semua negara yang disebutkan tadi pada Quarter ke dua ini naik semua, Namun yang lebih pesat kenaikannya adalah Mexico yang capai 19,60 persen,” jelas Rifqi.

Kecuali Tiongkok, Rifqi menegaskan seluruh negara yang ia sebutkan sejak Quarter Kedua tahun 2020 hingga Quarter Pertama tahun 2021 PDB-nya minus.

Selain PDB, Ia juga memaparkan harga komoditas secara global dari Juni hingga Agustus 2021. Pada komoditas Minyak mentah mengalami kenaikan dari 150 USD bbl menjadi 172 USD bbl. Batubara mengalami penurunan dari 74 USD/Ton menjadi 69 USD. Untuk Nikel juga mengalami penurunan dari 34.769 USD per Ton menjadi 33.840 USD.

Sementara itu, untuk Timah mengalami kenaikan dari 19.547 USD per Ton menjadi 19.590 USD. CPO atau minyak sawit mentah saat ini mengalami penurunan dari 4.371 MYR per Ton menjadi 4.254 MYR. Emas sediri masih stagnan yang mana masih di harga 1.813 USD per tr.Oz. Pada komoditas Tembaga mengalami penurunan yakni dari 4,4735 USD per Lbs menjadi 4,3600.

Dimasa Pendemi Covid-19, Vaksinasi menjadi salah satu yang diperhitungkan Rifqi untuk pemulihan ekonomi Indonesia. Pada data vaksinasi dunia per 31 Agustus 2021, Vaksinasi di Indonesia sudah 23 Persen.

“Semoga dengan tercapainya vaksinasi di Indonesia ini, perekonomian kembali pulih,” harapnya.

Ekonomi Indonesia
Dilihat dari rekam jejak PDB Indonesia pada tahun 2020, PDB Tahunan (YoY) mengalami penurunan hingga angka -2,07 persen yang mana pada tahun 2019 masih di angka 5,02 persen.

“Sementara untuk PDB Indonesia dengan Mitra Dagang mengalami penurunan kecuali dengan Tiongkok,” ungkapnya.

Pada PDB Kuartalan, Rifqi menyampaikan bahwa petumbuhan YoY kuartal petama 2021 yang 0-71 persen naik 7,07 peraen di kuartal kedua. Sedangkan QoQ juga mengalami kenaikan dari -0,92 persen menjadi 3,31 persen.

“Nominal PDB pada kuartal kedua tahun 2021 ini Rp2.772,83 Triliun,” ujarnya.

Pasar Saham
Monthly Closing IHGS pada Juli hingga Agustus 2021 mengalami peningkatan yakni 6.070 IHGS menjadi 6.150 IHGS. Pada Monthly foreign buy/sell juga mengalami kenaikan. Di reguler market pada Juli sebanyak 1.711 menjadi 10.959 di Agustus. Sedangkan di All Market dari 911 menjadi 21.835.

Outlook Pasar
Pada outlook komoditas Batu bara, minyak menta dan CPO, Rifqi menyampaikan beberapa poin, yakni:
1. pemuliaan perekonomian dan pertumbuhan industri baja di Tiongkok mendorong penguatan harga Batu Bara.
2. Batubara masih bisa menguat karena sudah mendekati musim dingin.
3. Harga Batu Bara sempat melemah saat pemerintah Tiongkok mengoperasikan kembali 15 tambang Batu Baranya.
4. India diperkirakan akan kembali menaikan tarif impor minyak sawit olahan mulai akhir September.

Pada komoditas Loga, Rifqi juga menyampaikan beberapa poin, yakni:
1. Harga Nikel kembali menguat karena stok di gudang LME dan penjualan mobil listrik China yang terus meningkat.
2. Harga timah terus menguat seiring dengan naiknya kebutuhan barang elektronik.
3. Tembaga sempat terkoreksi karena turunnya permintaan dari Tiongkok akibat pembatasan mobilitas sementara.
4. Emas perahan mulai melemah setelah meredanya ketidakpastian perekonomian pasca krisis Covid-19 pada tahun 2020. (Kho/*)

DRadio 104,3 FM Jambi