Beranda Akses Angka Stunting di Jambi Masih Lebih Tinggi dari Standar WHO

Angka Stunting di Jambi Masih Lebih Tinggi dari Standar WHO

Kasus Stunting di Jambi: Tanjab Barat Terendah, Sarolangun Tertinggi
Kasus Stunting di Jambi: Tanjab Barat Terendah, Sarolangun Tertinggi

JAMBI, AksesNews – Gubernur Jambi, Fachrori Umar mengungkapkan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi saat ini adalah masih tingginya angka prevalensi stunting (pertumbuhan kerdil).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka prevalensi stunting pada balita masih di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), yaitu sebesar 30,1 persen.

“Pemerintah daerah akan terus fokus untuk menurunkan jumlah permasalahan kekurangan gizi kronis (stunting) yang ada di kabupaten/kota, yang harus diselesaikan secara terintegrasi dengan lintas sektor,” kata Gubernur Jambi, Senin (14/9).

Untuk di Provinsi Jambi, stunting tertinggi di Kabupaten Tanjung Jabung (Tanjab) Barat sebesar 44 persen. Sedangkan yang terendah di Kabupaten Sarolangun sebesar 18,8 persen.

“Tahun 2030 nanti Indonesia, termasuk Provinsi Jambi akan memasuki era bonus demografi dimana usia produktif pada piramida penduduk kita lebih banyak dibanding dengan usia tidak produktif,” kata Fachrori.

Menurutnya, bonus demografi ini akan menjadi berkat apabila sumber daya (SDM) manusia usia produktif yang dimiliki itu adalah SDM yang berkualitas, berakhlak, memiliki keterampilan dan pengetahuan teknologi.

“Sebaliknya, jika SDM yang kita miliki saat itu tidak berkualitas, tidak memiliki bekal yang cukup untuk bersaing di era kompetisi global ke depan. Maka mereka tidak hanya akan menjadi beban, tetapi juga sumber masalah ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan,” jelasnya.

Permasalahan stunting adalah masalah multi dimensi, di antaranya mencakup masalah gizi yang kurang, pelayanan kesehatan yang belum optimal, kemiskinan, ketidaktahuan, ketidakpedulian, lingkungan yang kurang baik, belum optimalnya infrasktur air minum dan sanitasi yang layak.

Untuk itu, diperlukan berbagai peluang guna menyiapkan generasi kedepan. Pada usia dini yang dimulai dari 1.000 hari pertama kehidupan yaitu, masa ibu mengandung sampai dengan 5 tahun merupakan periode emas yang harus diberikan nutrisi yang baik.

“Periode emas akan sangat mempengaruhi perkembangan saraf-saraf otak yang akan berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual mental dan emosional seseorang di kemudian hari,” jelasnya.

Selain itu, Gubernur menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini. Pendidikan kepada anak sejak usia dini sangat penting, bukan hanya pendidikan ilmu pengetahuan, tetapi juga pendidikan untuk membangun karakter, yang turut menempa kepribadian anak.

“Ilmu pengetahuan dan karakter merupakan dua hal yang harus dipenuhi dalam menghasilkan generasi yang berkualitas dan berdaya saing, bahkan menjadi para penerus estafet kepemimpinan daerah dan negeri ini,“ pungkasnya. (Bjs/Hms)