Beranda Akses BI Jambi: Provinsi Jambi mengalami deflasi sebesar 0,20 persen

BI Jambi: Provinsi Jambi mengalami deflasi sebesar 0,20 persen

Gubernur Jambi, Fachrori Umar bersama Tim Satgas pangan lakukan operasi pasar untuk semua komoditi pangan di Pasar Angso Duo Baru Jambi, Jumat (09/08/2019)

JAMBI, AksesJambi.com – November 2019, perkembangan Indeks Harga Konsumen Kota Jambi mengalami deflasi 0,16 persen (mtm). Sejalan dengan Kota Jambi, Kabupaten Bungo tercatat deflasi sebesar 0,51 persen (mtm). Sehingga secara akumulasi, Provinsi Jambi mengalami deflasi sebesar 0,20 persen (mtm) atau secara tahunan mengalami inflasi 1,94 persen (yoy).

Perkembangan inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan Oktober 2019 yang mengalami inflasi sebesar 0,08 persen (mtm). Secara tahun kalender (Januari-November), laju inflasi Provinsi Jambi tercatat sebesar 1,03 persen (ytd).

Inflasi Provinsi Jambi pada November 2019 disebabkan oleh penurunan harga kelompok bahan makanan seiring dengan terjaganya pasokan beberapa komoditas ikan-ikanan, peternakan, dan pertanian selama satu bulan terakhir.

“Komoditas bahan makanan yang menjadi penyumbang utama deflasi adalah ikan nila, kacang panjang, dan cabai merah,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Bayu Martanto dalam rilis resminya, Rabu (11/12/2019).

Turunnya harga ikan nila terjadi seiring dengan meningkatnya pasokan akibat membaiknya produksi sejalan dengan memasuki musim hujan. Sementara, deflasi kacang panjang disebabkan oleh meningkatnya pasokan seiring melimpahnya produksi di beberapa daerah sentra. Selanjutnya, penurunan harga cabai merah kembali berlanjut di tengah periode panen yang masih berlangsung.

Terkait deflasi di Kota Jambi, komoditas penyumbang deflasi terbesar pada November 2019 adalah ikan nila (deflasi 5,51persen mtm dengan andil -0,08 persen), kacang panjang (deflasi 39,43 persen mtm dengan andil -0,07 persen), dan cabai merah (deflasi 5,39 persen mtm dengan andil -0,07 persen).

Menurunnya harga komoditas ikan nila terutama disebabkan terjaganya pasokan di tengah stabilnya permintaan. Komoditas kacang panjang juga mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya stok memasuki masa panen.

Sementara, penurunan harga cabai merah terjadi akibat terjaganya stok dan pasokan memasuki masa panen di beberapa daerah sentra produksi sejak September 2019.

Sejalan dengan Kota Jambi, penyumbang deflasi terbesar di Kabupaten Bungo adalah kentang (deflasi 14,28 persen mtm dengan andil -0,24 persen), cabai rawit (deflasi 32,06 persen mtm dengan andil -0,13 persen), dan daging ayam ras (deflasi 6,38 persen mtm dengan andil -0,09 persen).

Kondisi ini disebabkan oleh terjaganya pasokan di tengah stabilnya permintaan masyarakat di bulan laporan. Turunnya harga kentang seiring dengan melimpahnya produksi di daerah sentra khususnya Kerinci.

Sementara, harga cabai rawit kembali mengalami penurunan disebabkan bertambahnya stok di tingkat agen maupun pedagang pengecer seiring dengan masih berlangsungnya periode panen di berbagai daerah sentra. Penurunan harga daging ayam terutama disebabkan oleh membaiknya pasokan selama November 2019.

“Mempertimbangkan kondisi terkini serta kebijakan pemerintah maupun pelaku usaha, laju inflasi Desember 2019 diperkirakan berada pada kisaran 0,76 persen – 1,16 persen (mtm) atau 1,81 – 2,21 persen (yoy),” kata Bayu.

Inflasi utamanya akan didorong oleh peningkatan harga kelompok jasa angkutan dan bahan makanan seiring dengan tingginya permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru sesuai pola musimannya. Dengan demikian, inflasi keseluruhan tahun 2019 diperkirakan masih terkendali pada kisaran 1,81 – 2,21 persen (yoy). (BARA)