Beranda Akses Jarak Pandang Terbatas, Kabut Asap Ganggu Pelayaran di Kuala Tungkal

Jarak Pandang Terbatas, Kabut Asap Ganggu Pelayaran di Kuala Tungkal

TANJABBAR, AksesJambi.com – Kabut asap tebal yang melanda udara Kabupaten Tanjung jabung barat (Tanjabbar), sejak beberapa hari terakhir, ternyata tidak hanya mengganggu aktivitas sekolah tetapi turut pula mengganggu aktivitas pelayaran.

Hal itu diungkapkan oleh Pimpinan PT Karya Budi, Kadir yang menyampaikan bahwa kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kiriman dari daerah tetangga tersebut membuat jarak pandang di laut tempat jalur lintas pemberangkatan menjadi terbatas.

“Kabut asap menghambat dan membuat jarak pandang Nahkoda kami terganggu, maka dari itu kami mempersiapkan alat seperti pelampung, senter untuk keselamatan penumpang karena kabut asap yang menganggu pelayaran” kata Kadir, Selasa (10/09/2019).

Lebih lanjut, Kadir mengatakan dampak dari kabut asap terhadap pelayaran di Pelabuhan yaitu pengurangan kapasitas penumpang untuk keberangkatan, yang mana semula sekitar 30 penumpang dikurangi setengahnya penumpang karena dampak dari kabut asap.

“Penumpang kita kurangi setengah, supaya aman kita di laut,” sebutnya.

Lanjutnya, kabut asap sendiri juga membuat para Nahkoda harus berhati-hati agar selalu mengutamakan keselamatan para penumpang, untuk itu kecepatan dari supir harus dikurangi.

“Keselamatan penumpang harus diutamakan walaupun kabut asap makin tebal, karena itu kecepatan harus di kurangi agar penumpang selalu terjaga dan selamat,” jelasnya.

BACA JUGA: Dampak Karhutla, Kuala Tungkal Diselimuti Kabut Asap

Salah satu supir Speedbot, Fauzi mengatakan, bahwa dirinya saat ini sangat berhati-hati dalam membawa penumpang, karena kabut asap makin tebal saat pagi hari sampai sore hari.

“Saya sangat berhati-hati membawa penumpang, maka dari itu saya membawa penumpang ke tengah bukan ke tepi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Terpisah, salah satu penumpang, Ahmad tujuan Kuala Tungkal-Tembilahan, menyayangkan adanya kabut asap ini, karena selain membuat pernafasan sesak juga membuat penumpang yang sering pergi melalui jalur laut menjadi takut.

“Kami menjadi takut untuk menggunakan pelayaran di laut, karena kabut asal. Tapi mau bagaimana lagi, tempat tinggal kami hanya bisa melalui transportasi laut,” pungkasnya. (Dika)