Beranda Akses Bangunan Sejarah di Muara Tembesi Terancam Abrasi Sungai Batanghari

Bangunan Sejarah di Muara Tembesi Terancam Abrasi Sungai Batanghari

BATANGHARI, AksesJambi.com – Bangunan kolonial yang terletak di Kelurahan Pasar Muara Tembesi, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Jambi mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat. Apalagi informasi tentang bangunan tersebut sulit didapatkan. Masyarakat sekitar menyebutnya ‘Benteng Belanda.’ Nama tersebut cukup akrab di sana.

Bangunan di kawasan ini diperkirakan berdiri sejak tahun 1901 Masehi. Bangsa Belanda menggunakan tenaga pribumi untuk pembangunan di sana. Namun, belum ada penelitian yang menguatkan informasi ini.

Peninggalan kolonial di kawasan tersebut ada beberapa jenis bangunan. Ada yang berupa bangunan pertahanan, bangunan diduga asrama militer, kompleks pemakaman bangsa Belanda, bangunan bioskop, rumah lama, dan sebagainya.

Namun, bangunan kuno di kawasan Kelurahan Pasar Muara Tembesi ini sedang terancam. Beberapa titik bagian dalam bangunan dihuni tumbuhan liar. Ada pula bagian yang runtuh akibat abrasi di tebing sungai.

Kawasan ini memang terletak di Sungai Batanghari yang menghubungkan antar wilayah. Walaupun strategis untuk sarana transportasi perairan, posisinya juga mengancam keberadaan reruntuhan tersebut. Sebab, belum ada bangunan untuk menopang tebing sungai.

Pendiri Komunitas Batanghari Heritage, Okta menyampaikan bahwa dirinya prihatin dengan kondisi peninggalan kolonial di Kelurahan Pasar Muara Tembesi. Menurutnya, peninggalan kolonial tepat di pinggir sungai tersebut, bisa benar-benar runtuh akibat abrasi, jika tidak segera diberikan perlindungan.

“Sangat disayangkan sih. Karena saat penelitian di sini pada tahun 2019 kondisi dinding di Bangunan Pertahanan ini masih utuh. Tapi sekarang sudah runtuh, bahkan ada yang bagian amblas,” katanya, Selasa (09/03/2021).

Kawasan peninggalan kolonial ini seharusnya dilindungi dan dimanfaatkan sebagai pariwisata yang edukatif. Sehingga mereka yang pergi ke sana, dapat mengetahui dan menikmati peninggalan sejarah kelam Indonesia pada zaman penjajahan di Keluaran Pasar Tembesi.

“Karena lokasinya strategis. Ini bisa melibatkan masyarakat sekitar. Selain memanfaatkan untuk kebutuhan ekonomi, masyarakat dapat disiapkan menjadi pemandu untuk mereka yang berkunjung di sana,” tutur Okta, perempuan yang pernah mengkaji bangunan kolonial tersebut.

Sementara itu, seorang Akademisi Universitas Jambi (Unja), Ari Mukti Wardoyo menyampaikan bahwa reruntuhan di kawasan ini memang sedang terancam. Aktivitas penambangan di sana dapat berpengaruh pada kondisi sungai yang mendukung terjadinya abrasi.

“Namanya pertambangan, kan dapat mengambil sedimen yang ada di dasar sungai. Ketika dasar sungai diambil, itu akan mudah longsor. Didukung pula arus sungai. Tanahnya di sana merupakan endapan,” katanya.

Supaya tidak lagi terjadi abrasi, pembangunan dinding dapat dilakukan. Jika sudah dibangun, dinding tersebut diharapkan dapat menahan tebing sungai, sehingga Bangunan Pertahanan di tepi sungai tidak lagi amblas.

“Untuk meminimalisasir erosi di pinggir sungai, setahu ku bisa dibangun Sheet-pile untuk menahan tepi sungai. Ada yang terbuat dari beton dan besi. Ini yang sekarang digunakan di Candi Bumi Ayu,” tutur Ari.

Bagi Ari, sebelum upaya perlindungan dilakukan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi dapat merumuskan Peraturan Daerah (Perda) tentang Cagar Budaya. Setelah itu, pemerintah setempat dapat membentuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk mengkaji, sekaligus mengajukan kawasan peninggalan kolonial ini, supaya menjadi Cagar Budaya.

“Di situ pelindungan saja belum ada. Bahkan kalau mau disinggung peraturan yang melindungi peninggalan tersebut tidak ada. Baru sebatas undang-undang Cagar Budaya dari pusat. Jambi sendiri belum ada Perda yang secara khusus membicarakan bagaimana melindungi Cagar Budaya,” katanya.

Jika sudah menjadi Cagar Budaya, baru lah kawasan peninggalan kolonial ini dapat memasuki tahap pelestarian yang meliputi pelindungan, pemanfaatan dan pengembangan.

Nilai Penting Peninggalan Kolonial

Pendapat Ari tadi, bukan tanpa alasan yang kuat. Menurutnya, bangunan-bangunan kolonial di Kelurahan Pasar Tembesi memiliki nilai historis yang tinggi, serta menampilkan teknologi yang unik.

Bangunan kolonial di Kelurahan Pasar Muara Tembesi, kata Ari, menunjukan teknologi pembangunan yang jarang di Sumatra, karena menggunakan beton pre-casting, yakni lembaran beton yang memiliki kerangka besi.

“Setelah dibuat, beton ini dibawa ke kawasan tersebut, lalu disusun selayaknya Lego. Diletakan di kayu yang menjadi pondasi,” tuturnya.

Kemungkinan bangunan militer di sana digunakan untuk mengawasi lalu lintas perairan. Sebab, posisinya tepat di persimpangan aliran Sungai Batanghari.

“Jalur ke arah barat menuju Dharmasraya. Sedangkan jalur ke arah selatan itu bisa sampai ke Sarolangun dan Kerinci. Dulu sebelum jalan di darat, ya lewat sungai yang ada di Tembesi itu,” kata Ari.

Memang ketika fase kolonial berlangsung, bangsa Belanda membangun fasilitas untuk mengawasi jalur transportasi di perairan. Tentu saja untuk mengawasi aktivitas ekonomi yang menguntungkan pihak mereka.

Secara garis besar, Ari lebih suka menganggapnya sebagai kawasan perkotaan kolonial bangsa Belanda. Karena di sana tidak hanya berdiri Bangunan Pertahanan dan makam bangsa Belanda saja, tetapi ada berbagai fasilitas dan bangunan yang lain.

“Di sana ada rumah, bangunan bioskop dan pasar yang sudah lama,” katanya.

Mengenai waktu kapan peninggalan kolonial tersebut dibangun, Ari belum bisa memastikan. Untuk memastikannya, diperlukan penelitian lebih lanjut.

“Aku kurang tahu ya, tetapi cerita yang beredar itu sejak tahun 1901. Namun untuk mengetahui ini perlu catatan sejarah. Biasanya bangunan Belanda ada prasasti angka tahun. Ada kemungkinan itu ada yang diperbarui tentara kita,” pungkasnya. (Sob)

DRadio 104,3 FM Jambi