Beranda Akses Perjuangan Pengemudi Pompong di Tengah Pandemi Covid-19

Perjuangan Pengemudi Pompong di Tengah Pandemi Covid-19

TANJABBAR, AksesJambi.com – Kapal pompong atau boat kapal yang berukuran sedang, dan biasa digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai transportasi sungai ataupun laut. Biasanya kapal ini dikendalikan oleh orang dewasa dan mahir dalam soal mengemudikan kapal pompong. 

Namun, siapa sangka di Desa Betara Kanan, Kecamatan Kuala Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi ada pemuda berusia 15 tahun yang menjadi pengemudi kapal pompong.

Hampir setiap hari, pemuda tersebut mengemudikan kapal pompong dengan membawa penumpang yang ingin pergi dari Desa Betara Kanan menuju Desa tetangga, yaitu Desa Parit Deli. Melawan arus dan membelah ombak dari Sungai Parit Deli selama hampir 5 menit ia lakukan setiap hari.

Sahir Saputra, anak kedua dari pasangan Ali dan Erna. Itu lah sosok pemuda yang berani mengambil pekerjaan sebagai pengemudi kapal pompong, meski dengan resiko yang cukup tinggi jika terjadi sesuatu hal. Menurutnya, menjadi pengemudi kapal pompong ini telah ia lakoni sejak 5 bulan terakhir.

Sahir mengatakan, bahwa sebelumnya ia hanya berada di rumah dan beraktivitas seperti anak pada umumnya, bermain dan belajar. Pekerjaan ini pun, sebetulnya adalah pekerjaan kakaknya. Namun karena kakaknya telah mendapatkan pekerjaan lain, Sahir memilih untuk melanjutkan pekerjaan kakaknya tersebut menjadi pengemudi kapal pompong.

“Awalnya abang kami yang kerja ini, tapi kemarin dia ada dapat kerjaan lain. Jadi kami lah yang gantikannya, tapi sebelumnya sudah belajar kek mana ngidupin dan bawa pompong,” sebut Sahir, Selasa (06/07/2021).

Kegiatan belajar-mengajar yang masih secara daring dan belum tatap muka menjadi pertimbangan Sahir untuk menjadi pengemudi kapal pompong. Ia menyebut ada banyak waktu luang yang tersisa selama tidak belajar tatap muka yang selama ini ia lakukan dengan bermain. 

Sahir merupakan siswa kelas 3 di SMP 3 Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Melihat peluang lain yang difikir lebih bermanfaat dari sekedar bermain, Sahir memutuskan untuk memanfaatkan waktu dengan mencari pundi-pundi uang dengan mengemudikan kapal pompong.

Sahir menyebutkan bahwa dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, ia bisa mendapatkan rata-rata uang sebesar Rp 70 ribu, bahkan jika mujur ia bisa mendapatkan uang sebesar Rp 100 ribu. Uang yang didapatnya pun tidak hanya untuk jajan, namun sebagian ditabung.

“Kalau dapatnya berapa tidak nentu juga, karena kan tergantung penumpang. Makin banyak penumpang  ya makin banyak juga dapatnya. Uangnya ada untuk jajan tapi sebagain ada juga untuk ditabung,” katanya.

Sahir menyebutkan, bahwa dirinya tidak mendapatkan paksaan atau bahkan diminta oleh orang tuanya untuk bekerja. Namun, Sahir menyadari bahwa saat ini dirinya yang tengah bersekolah di kelas 3 SMP akan lulus dan memiliki niat untuk melanjutkan pendidikan SMA. 

Ia sadar ketika melanjutkan SMA, akan ada pengeluaran biaya sekolah yang cukup besar. Mengambil pekerjaan menjadi pengemudi kapal pompong dengan hasil yang sebagiannya ditabung, Sahir berharap bisa membantu orang tuanya untuk biaya masuk SMA.

“Ya, tabungan tadi buat nanti SMA, buat kebutuhan sekolah, beli buku, beli tas. Meringankan biaya sekolah lah kan, minimal bantu orang tua dari biaya perlengkapan sekolah,” ucapnya. 

Pompong yang ia gunakan ternyata bukanlah pompong milik pribadi, melainkan pompong milik pihak kecamatan yang ia gunakan. Namun, Sahir tidak perlu menyetorkan penghasilan selama ia mengemudi pompong, hanya saja Sahir diminta oleh pihak kecamatan untuk menjaga pompong tersebut.

“Alhamdulilah, uang yang kami dapat itu semuanya untuk saya. Tapi ya saya cuma diminta untuk merawat pompong ini baik-baik, supaya tetap bisa di gunakan. Ya, terima kasih juga lah ke pihak kecamatan,” terangnya.

Sahir mengaku tidak ada kendala selama menjadi pengemudi kapal pompong. Ia bahkan, senang melakoni pekerjaan menjadi pengemudi kapal pompong dan mendapatkan uang. 

Namun, disisi lain Sahir tidak ingin terus-terusan menjadi pengemudi pompong. Ia berharap kegiatan belajar-mengajar bisa kembali sebelum adanya pandemi Covid-19. 

Ia mengaku bahwa rindu akan suasana belajar tatap muka, bertemu dengan guru, bertemu dengan teman-teman sekolah dan ia rindu beraktivitas setiap harinya ke sekolah.

“Ya, rindu kalau ke sekolah. Ketemu guru, kawan-kawan, bisa main di sekolah. Rindu pakai seragamnya. Semoga lah Covid-19 cepat selesai dan bisa sekolah kek dulu lagi,” pungkasnya. (Dika)

DRadio 104,3 FM Jambi