JAKARTA, AksesNews – Liga Perjuangan Rakyat Internasional (International League of People’s Struggle) Chapter Indonesia – ILPS Indonesia Bersama dengan Front Perjuangan Rakyat (FPR) dan berbagai organisasi anggotanya menyelenggarakan Aksi Demonstrasi di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat, di Indonesia.
Aksi ini merupakan bentuk respon kecaman terhadap Tindakan bar-bar dan brutal imperialis Amerika Serikat beserta presiden Donald Trump yang telah melakukan agresi militer kepada Venezuela pada 3 Januari 2026.
Dalam aksi tersebut beberapa kota utama, termasuk Ibu Kota Caracas menjadi sasaran tembakan rudal dan pengepungan pasukan militer AS.
Tak hanya itu, Donald Trump melalui pasukannya juga menangkap Presiden Nicolas Maduro dan menahannya kini di New York, Amerika Serikat.
Bagi ILPS Indonesia, serangan dan aski militer unilateralnya tersebut, Amerika Serikat tidak hanya mengabaikan Piagam PBB dan hukum internasional, akan tetapi merendahkan dan menghinanya.
“Presiden Trump secara tebuka telah menyatakan niat busuknya, seluruh tuduhan yang selama ini dilontarkan kepada Venezuela dan Presiden Maduro adalah alasan. Tujuan utamanya yakni menguasai minyak dan mineral untuk kepentingan Amerika Serikat,” kata Ketua ILPS Indonesia Helda Khasmy.
Sejak revolusi Bolivarian yang dipimpin oleh Hugo Chavez, Venezuela telah menasionalisasi asset Perusahaan pertambangan Amerika Serikat dan mengambil alih kontrol atas sumber daya alam minyak dan mineral untuk bangsa dan rakyatnya sendiri.
Selama sistem Sosialis khas Bolivarian tetap berkuasa di Venezuela, Amerika Serikat tidak akan dapat berkuasa sepenuhnya. Kondisi tersebut akan terus melemahkan dominasi Amerika Serikat di Kawasan Amerika Latin.
Karena itu, sistem ekonomi dan politik yang menentang dominasi imperialis Amerika Serikat tidak bisa dibiarkan.
“Presiden Trump berkepentingan untuk menggulingkan Nicolas Maduro, menggantinya dengan pemerintahan yang pro Amerika Serikat, pemerintahan yang memberikan hak seleluasa mungkin bagi Amerika Serikat untuk menguasai minyak dan kekayaan lainnya di Venezuela,” lanjut Helda.
Atas dasar itu, FPR melalui Koordinator nasionalnya Symphati Dimas menegaskan gerakan demokratis nasional anti imperialism, anti feodalisme dan anti kapitalis birokrat di Indonesia mengecam sekeras-kerasnya serangan militer unilateral Amerika Serikat terhadap Venezuela, apapun dalihnya.
“Kami menganggap bahwa serangan militer tersebut merupakan kejahatan internasional terhadap kedaulatan bangsa dan hak menentukan Nasib sendiri, pelakunya yakni Donald Trump harus dianggap dan diperlakukan sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan,” ujarnya.
Dalam momentum ini, ILPS Indonesia dan Front Perjuangan Rakyat menyatakan sikap dan tuntutannya antara lain:
1) Hentikan sekarang juga agresi militer unilateral barbar imperialis Amerika Serikat terhadap Venezuela. Adalah hak bebas dari bangsa dan rakyat Venezuela menentukan nasibnya sendiri bebas dari dominasi dan tanpa intervensi Amerika Serikat dan dari negeri manapun.
2) Hentikan seluruh operasi militer atas dalih apapun untuk mengganti sistem dan pemerintahan demokratis anti Amerika Serikat di Amerika Latin, Afrika dan Asia serta seluruh dunia untuk merampas kekayaan alam dan tenaga rakyat.
3) Hapus seluruh sistem Setengah Jajahan dan Setengah Feodal yang sengaja dipelihara oleh imperialis pimpinan Amerika Serikat atas seluruh negeri agraris di seluruh dunia untuk mengeruk superprofit melalui ekspor kapitalnya.
4) Pemerintah Indonesia harus membuktikan dirinya bukan negara setengah jajahan Amerika Serikat dan bukan pemerintahan bonekanya dengan mempertahankan Piagam PBB dan hukum internasional yang anti penjajahan satu bangsa atas bangsa lainnya. Juga menentang dan memutus perjanjian ekonomi, politik, kebudayaan dan kemiliteran yang tidak adil dan tidak setara dengan imperialis Amerika Serikat.
Bangsa dan rakyat Indonesia, bangkit dan lawan agresi militer imperialis Amerika Serikat tersebut. Solidaritas internasional harus diekspresikan dengan selantang-lantangnya, tidak hanya demi mengembalikan kedaulatan bangsa dan kebebasan rakyat Venezuela. Juga mengembalikan kedaulatan ratusan bangsa dan kebebasan dari miliaran rakyat seluruh dunia. (Rls/*)



