Beranda Akses Presma Unbari Akan Giring Kasus Intimidasi Mahasiswa Unaja ke Kemenristekdikti

Presma Unbari Akan Giring Kasus Intimidasi Mahasiswa Unaja ke Kemenristekdikti

JAMBI, AksesNews – Intimidasi terhadap Mahasiswa Universitas Adiwangsa Jambi (Unaja) yang dilakukan pihak Kampus, membuat Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Batanghari (Unbari), Arby Afrilianif.S geram.

“Ini adalah kejadian yang paling buruk sepanjang sejarah. Kampus di provinsi Jambi yang gampang untuk mengancam mahasiswa Drop Out dikarenakan mengkritik Rektorat,” kata Arby, Kamis (04/07/2019).

Dengan geram, Arby menyampaikan akan konsolidasi besar-besaran bersama Mahasiswa se-Provinsi Jambi untuk menyuarakan hak mahasiswa, khususnya mahasiswa Unaja yang terancam DO.

“Saya atas nama Presiden BEM Unbari dan Koordinator BEM Nusantara LL Dikti Wilayah X akan segera melakukan konsolidasi besar-besaran bersama BEM se-Jambi untuk menyuarakan hak mahasiswa Unaja terhadap intimidasi dari Rektorat.

Untuk teman-teman Unaja tetaplah kepada jalur perjuangan dalam mencapai kebenaran. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa dan BEM Unaja, Arby mengatakan adalah bentuk dari Sosial Control terhadap kampus.

“Mahasiswa sebagai agen perubahan, tentulah bersikap kritis mungkin terhadap kebijakan yang dianggapnya tidak benar,” kata Arby.

Menurutnya, tutuntutan mahasiswa Unaja menjadi hal menakutkan pihak Rektorat, sehingga upaya apapun di dihalalkan. Seperti ancaman, intimidasi kepada orang tua mahasiswa yang melakukan aksi.

Hal tersebut tentulah melanggar hak kebebasan berependapat dikatakan dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945, yang berbunyi setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

“Sanggat disayangkan sekali teman-teman kita dari Kampus Unaja mendapatkan ancaman dari pihak Rektorat Unaja,” jelas Presma Unbari yang merupakan Mahasiswa Hukum itu.

Tambahnya, Arby mengatakan Kampus itu subtansinya adalah tempat menguji kebenaran dan hak yang menjunjung tinggi nilai kebenaran. Tuntutan yang mereka utarakan salah satunya adalah untuk perubahan bagi kampus itu sediri dan juga BEMnya.

Berdasarkan Pasal 2 Kepmendikbud No.15/U/1998, Arby mengatakan hal yang dilakukan mahasiswa khususnya BEM itu merupakan hak mahasiswa yang diakui negara, karena peraturan itu sudah mengatur bahwa Organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi diselenggarakan berdasarkan prinsip dari, Oleh dan untuk mahasiswa.

“Dengan memberikan peranan dan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa. Maka dari itu, oraganisasi intra kampus berhak mentukan bentuk sturktur keorganisasianya tanpa sedikitpun intimidasi dari pihak rektorat,” ujarnya.

Arby mengungkapkan telah berkoordinasi dengan BEM se-Nusantara terkait kasus yang dialami mahasiswa Unaja. Selain itu, dirinya juga menegaskan apabila kasus tersebut tidak selesai di Jambi, maka akan di bawa ke tingkat Nasional.

“Saya juga menghubunggi teman-teman Korpus BEM Nusantara untuk menyoroti kasus ini. Jika wilayah hukum Jambi tidak mampu untuk menyelesaikan kasus ini kita akan giring kasus ini hingga Kemenristekdikti,” pungkasnya. (Alpin)

DRadio 104,3 FM Jambi