Beranda Akses Ini Rangkuman Kondisi dari Beberapa Negara Terkait COVID-19 Menurut PUSAKADEMIA

Ini Rangkuman Kondisi dari Beberapa Negara Terkait COVID-19 Menurut PUSAKADEMIA

JAMBI, AksesNews – Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan PUSAKADEMIA, menggelar diskusi online yang keempat kali tentang COVID-19, kali ini dengan tema “COVID-19: Sharing Session Around the World” yang menghadirkan 8 (delapan) narasumber Diaspora Indonesia, dan langsung dimoderatori oleh Direktur PUSAKADEMIA Bahren Nurdin, MA Kamis (23/4).

yaitu Sarah Rizky Ardhani gadis asal Kota Malang yang sedang menempuh pendidikan S1 di Wesleyen University, Amirul Hakim Bin Ahmad Nadzri dosen di Kolej Islam As Sofa Malaysia, Ima Sri Rahmani Mahasiswi di UCLouvani Belgia, Tri Kurnia Rahayu.J mahasiswi asal Jambi di National Cheng Kung University Taiwan, Teguh Imanullah mahasiswa di Belgorod State University Russia yang sekaligus Ketua Ikatan Diaspora Muda (IDM) Jambi, Titin Agustin Nengsih mahasiswa di Universite de Strasbourg Prancis, Raden Irwansyah Kuliah di Universitas Al Azar Mesir dan Nisaul Fadilah mahasiswi di Western Sydney University Australia, serta Mochammad Farisi Dosen Hukum Internasional dari Univ. Jambi.

Haru, senang, dan emosional itulah gambaran 15 menit pertama saat narasumber mulai memasukin forum diskusi virtual via teamlink. Karena mayoritas narasumber adalah diaspora Indonesia asal Jambi yang sekarang sedang tinggal diluar negeri dan juga ada yang berasal dari Malang Jawa Timur, jadi pada saat bertemu heboh saling kangen-kangenan, cerita tempoyak, pempek bahkan saat ada bunyi ayam berkokokpun dari diaudio salah satu peserta malah jadi bahan guyonan, salah satu narsum bilang “ayam siapa tuh” lama banget ga denger suara ayam berkokok disini, dan semuapun tertawa.

Dalam pembukaan diskusi direktur PUSAKADEMIA mengatakan bahwa tujuan diskusi adalah pertama menjalin silaturahmi antar anak bangsa Jambi yang sedang jauh perantauan di negeri orang, kedua sharing tentang kondisi social masyarakat di Negara-negara terdampak dan menjelaskan upaya apa saja yang dilakukan pemerintah disana yang ketiga menguatkan dan memotivasi satu sama lain untuk selalu sabar dan semangat “Never give up and stay togather to strengthen one another”.

Diskusi berjalan selama 3 jam mulai pukul 09.00 sd 12.00 wib. Kesempatan pertama berbicara adalah
M. Farisi, LL.M dosen Hukum Internasional FH UNJA sebagai pengantar diskusi dimana menjelaskan Indoensia memilih untuk menerapkan PSBB sebagai respon status darurat kesehatan masyarakat, pemerintah Indonesia kurang tegas atau setengah-setengah antara mau mneyelamatkan ekonomi juga nyawa masyarakat. Jika tidak hati-hati, akan terjadi tren peningkatan wabah covid 19 di Indonesia. Diperkirakan Juni akan menjadi puncaknya, pemerintah perlu ekstra hati-hati dan serius untuk menjalankan PSBB

Sementara itu Sarah Rizki Ardani dari Amerika Serikat melaporkan, awal penyebaran virus ini di USA tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan cenderung diabaikan bahkan oleh Presiden Trump sendiri. Tapi, dengan semakin meningkatnya masyarakat yang terjangkit, pemerintah mulai panic dan menerapkan beberapa kebijakan termasuk locdown daerah. Terdapat beberapa kalangan masyarakat yang tidak sejutu dengan kebijakan pemerintah dan melakukan demo di beberapa negara bagian. Saat ini diberlakukan aturan yang ketat untuk menekan penyebar luasan covid 19, fasilitas umum ditutup.

Penanganan covid-19 di Australia dikabarkan oleh Nisaul Fadilah dari Western Sydney Univ, bahwa Awal-awal kebijakan pemerintah tidak terlalu ketat, tapi seiring meningkatnya kasus yang terjadi, akhirnya pemerintah setempat melakukan ‘lock down’. Sampai saat ini telah dilakukan pada fase III dan diberlakukan denda bagi para pelanggar peraturan dan efektif untuk efek jera. Pemerintah melakukan evaluasi setiap hari dan disampaikan secara transparan kepada masyrakat. Saat ini tren penyebaran sudah menurun dan dalam waktu dekan ada kemungkinan penormalan kembali aktivitas masyarakat.

CikGu Amirul Hakim dari Malaysia memaparkan bahwa statistik menunjukkan per perhari ini tren penyebaran sudah menurun. Saat ini berlakau lock down fase 3 hingga 28 April, seluruh kegiatan masyarakat di tutup termasuk sector industry. Masyarakat mendapat bantuan dari pemerintah / kerajaan sampai dengan RM 1600. mahasiswa dapat bantuan RM 200. Diberlakukan denda terhadap para pelanggar aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebesar RM. 10.000 atau penjara 6 bulan atau kedua-duanya, dan juga diberlakukan online learning.

Cerita dari Taiwan juga tak kalah seru, Tri Kurnia menjelaskan penanganan covid-19 mungkin yang terbaik didunia, hanya terdapat 126 kasus dari Januari. Walaupun sangat dekat dengan China, pemerintah Taiwan berhasil menekan laju penularan covid 19, ada koordinasi semua sector yang dilakukan oleh pemerintah dalam melakukan control terhadap aktivitas warga. Ada travel ban yang ketat, diberlakukan denda bagi para pelanggar. Pemberian bantuan dan masker kepada masyarakat

Raden Irwansyah, mahasiswa Al-Azar menjelaskan bagaimana kondisi covid di negeri “the gift of Neil”, sampai saat ini tidak ada masyarakat Indonesia yang terkena, penularan covid masuk dari Francis dan tiongkok, pemerintah melakukan penutupan tempat umum termasuk masjid dan dibiberlakukan jam malam. Bagi pelanggar akan dikenakan denda sebesar Rp. 4jtan atau penjara 3 tahun, dikontrol dengan sangat ketat. Warga dari luar negara akan dikarantidan selama 28 hari. Tidak dibenarkan lagi untuk berbagi takjil gratis yang biasanya menjadi budaya mereka, dan mahasiswa Indonesia di anggap asal China dan mendapat stigma negative karena dianggap pembawa virus korona.

Dari Prancis saudari Titin Agustin bercerita bahwa saat ini terjadi penularan yang sangat tingi mencapai 159 ribuan, saat ini terdapat 1800an kasus perhari, angka kematian mencapai 500an perhari. Kesembuhan mencapai 25% dari jumlah kasus, saat ini berlakukan pembatasan aktivitas masyarakat yang sangat ketat dan pelanggar akan didenda sampai dengan 8jt atau penjara 6 bulan

Teguh Imanullah dari bercerita bahwa kasus penyebaran covid-19 naik turun, diberlakukan pembatasan yang sangat ketat dan diberikan denda bagi para pelanggar. Warga dilarang keluar rumah, masing-masing kawasan diperbolehkan mengambil kebijakan di daerahnya. Masyarakt diberi mantuan makan tiap hari dan Alhamdulillah WNI tidak ada yang kena.

Di Belgia saat ini lagi musim semi dan baru selesai subuh kata bu Ima mengawali cerita, dia sangat menikmati tiap paparan dari sahabat yang berada dinegara-negara lain. Di Belgia Januari terjadi awal 2 kasus, namun respon pemerintah yang cepat awalnya ditanggapi ‘lebay’ oleh masyarakat, tapi akhirnya sangat bagus untuk menekan penyebaran. Semua tempat2 umum ditutup, ribuan orang diberikan sanksi denda karena melanggar. Terdapat Caos di bebebrapa daerah (rasisme) karena adanya diskriminasi terhadap kaum tertentu (imigran). Pasien yang sakit tidak boleh langsung ke rumah sakit tapi via telfon terlebih dahulu, setelah itu dijemput ambulan. Iklim yang terlalu demokratis juga menjadi kelemahan dalam menangani covid

Kesimpulan dari forum diskusi adalah pertama perlu kerja sama antara pemerintah dan warga negara, dua Perlu penerapan dendan dan hukuman penjara untuk menimbulkan efek jera, ketiga pemerintah harus memberi bantuan kepada seluruh warga negara yang terkena dampak covid, empat perlu kajian akademis (bukan politis) dalam menangani covid, lima masyarakat bahu membahu dalam melawan covid, keenam Covid boleh jadi ujian bagi kita semua agar lebih dekat denganNya, tujuh sangat perlu edukasi masyarakat akan keberadaan covid, delapan para elit politik jangan menfaatkan situasi ini untuk kepentingan tertentu mereka, Sembilan tingkatkan disiplin diri untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, terakhir perlu ketegasan pemerintah dalam menerapkan aturan yang dibuat. (Bob)

DRadio 104,3 FM Jambi