Beranda Akses Isu Kesehatan dan BPJS, Sri Mulyani Usulkan Minuman Berpemanis Kena Cukai

Isu Kesehatan dan BPJS, Sri Mulyani Usulkan Minuman Berpemanis Kena Cukai

JAKARTA, AksesNews – Tak terlepas dari isu Kesehatan yang menyangkut penyakit diabetes yang banyak terjadi di Indonesia yang prevalensi di atas 15 tahun yang meningkat dari 1,1 persen menjadi 2 persen dari 267 penduduk serta pembengkakan biaya kesehatan lewat BPJS Kesehatan, Menteri Keuangan RI usulkan tarif cukai minuman berpemanis per liter senilai Rp 1.500 hingga Rp 2.500 tergantung jenis minuman berpemanisnya. Hal ini disampaikan Sri Mulyani pada Raker Komisi XI DPRI di Jakarta, Rabu (19/2/02/2020).

Dalam Raker tersebut, Sri Mulyani mengusulkan Tiga jenis minuman berpemanis yang menjadi perhatian, yakni teh kemasan dengan tarif Rp1.500 per liter, minuman berkarbonasi Rp 2.500 per liter dan energy drink dan kopi konsentrat Rp 2.500 per liter.

“Untuk minuman berpemanis ini apabila disetujui objek kena cukai, kami usulkan minuman yang siap dikonsumsi. Ini termasuk konsentrat yang dikemas dalam bentuk penjualan eceran dan konsumsinya masih perlu proses pengenceran. Misalnya kopi sachet yang isinya banyak gula,” ujar Sri Mulyani.

Terkait pengenaan tarif, Sri Mulyani mengatakan pengenaan tarif cukai minuman berpemanis akan didasarkan pula pada kandungan gula dan pemanis buatan. Semakin tinggi kadar gulanya maka cukai lebih tinggi.

sementara itu, Sri Mulyani memberikan pengecualian terkait dengan minuman non-pabrikan atau sederhana sekala UMKM seperti Madu dan Jus Sayur tanpa tambahan gula. Selain itu, juga barang berpemanis yang diekspor, rusak atau musnah.

Dengan ada Tarif cukai itu, Sri Mulyani optimis produksi minuman berpemanis bisa berkurang dan juga pendapatan negara juga cukup besar.

Menurutnya, Produk teh kemasan yang jumlah produksinya 2.191 juta liter, estimasi produksi setelah cukai yaitu jadi 2015 juta liter dengan potensi penerimaan Rp 2,7 triliun. Untuk minuman berkarbonasi yang jumlah produksinya 747 juta liter memiliki estimasi produksi setelah cukai sebesar 687 juta liter dengan total penerimaan Rp 1,7 triliun.

Selanjutnya, untuk produk lainnya seperti energy drink dan kopi konsentrat yang diproduksinya 808 juta liter dengan estimasi produksi setelah cukai 743 dengan total penerimaan cukai Rp 1,85 Triliun.

“Sehingga potensi penerimaan semua produk minuman berpemanis senilai dengan usulan cukai Rp 1.500 hingga Rp 2.500 per liter bisa mencapai Rp 6,25 Triliun,” pungkasnya.

SUMBER: kumparan.com

DRadio 104,3 FM Jambi