Beranda Akses Pihak Perusahaan Akui Ada Kelalaian dalam Penanganan Limbah PT BBP

Pihak Perusahaan Akui Ada Kelalaian dalam Penanganan Limbah PT BBP

BATANGHARI, AksesJambi.com – Terkait melimpahnya limbah PT Inti Bara Nusa (IBN) yang merupakan induk perusahaan Berkat Bara Persada (BBP) yang beroperasi di wilayah Desa Jangga, Kecamatan Bathin XXIV, pihak perusahaan pun angkat bicara.

Melalui humas PT BBP, Ibnu mengatakan, pihak perusahaan pun mengakui bahwa memang ada kelalaian dalam penanganan limbah batu bara tersebut.

“Pihak HSE perusahaan pun mengakui bahwa memang ada kesalahan dalam pengolahan limbah, saya berani bilang seperti ini karena memang diakui oleh Pak Elisa selaku kepala bidang HSE,” ujar Ibnu, Rabu (06/05) saat dijumpai di Desa Jangga.

Saat dibincangi awak media, Project Manajer PT BBP, Aris Lukman pun menyayangkan atas pemberitaan limbah sebelumnya. Karena jika permasalahan ini sampai ke pihak DLH Kabupaten atau SDM Provinsi Jambi tentunya akan berdampak terhadap izin operasi perusahaan mereka.

“Karena akan repot jika izin operasi perusahaan dicabut karena permasalahan ini,” singkatnya.

Sementara itu, pihak perusahaan IBN pun berupaya agar kesalahan tersebut jangan dibesar-besarkan oleh awak media. Karena ini menyangkut investor yang akan berinvestasi di Kabupaten Batanghari.

“Awak media memang mempunyai hak untuk melakukan kontrol sosial, namun kita harapkan permasalahan ini jangan dibesar-besarkan, karena ini terkait kepentingan bersama” ujar Rizki selaku KTT PT IBN.

Diberitakan sebelumnya, salah satu warga berinisial HP mengatakan, kejadian tercemarnya aliran sungai ini tidak hanya satu kali, beberapa waktu lalu juga pernah terjadi. Sehingga menyebabkan keruhnya air aliran Sungai Aur yang masih di gunakan oleh masyarakat desa.

“Air sungai itu masih tetap dipakai untuk keperluan warga desa, namun karena penampungan limbah batu bara kerap melimpah, sehingga mengalir ke sungai ini,” kata dia, Minggu (3/5/2020).

Dikatakannya, dengan tercemarnya aliran sungai tersebut, tentunya membuat warga desa menjadi resah. Sebab masyarakat desa masih memerlukan air tersebut untuk keperluan sehari-hari,

“Ibu-ibu di Desa Jangga juga kerap mengeluhkan kejadian ini ke perangkat desa, seolah-olah perangkat desa di tuduh tutup mata dengan adanya pencemaran ini,” ucap HP yang juga merupakan anggota perangkat Desa Jangga.

Jika, permasalahan limbah ini tidak segera diatasi oleh pihak perusahaan, maka masyarakat Desa Jangga akan melaporkan kejadian ini ke Dinas Lingkungan Hidup dan DPMPTSP Kabupaten Batanghari. (ANI)

DRadio 104,3 FM Jambi