Beranda Akses 7 Fakta Kasus Penganiayaan Kepala SMAN 10 Tanjab Barat

7 Fakta Kasus Penganiayaan Kepala SMAN 10 Tanjab Barat

JAMBI, AksesNews – Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan perilaku beringas seorang wali murid yang tega menganiaya Kepala Sekolah, lantaran menyita telepon genggam anaknya ketika jam pelajaran masih berlangsung. Kejadian tersebut terjadi di SMA 10 Tanjung Jabung (Tanjab) Barat, Jambi, belum lama ini.

Pelaku berinisial BW yang merupakan warga Desa Bukit Harapan, Kecamatan Merlung, Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi, kini sudah diamankan jajaran Polres Tanjab Barat. Selain itu, polisi juga mengungkapkan adanya fakta lain terkait kasus tersebut.

Berikut beberapa fakta yang dirangkum AksesJambi.com, terkait kasus Orangtua Siswa yang Aniaya Kepala Sekolah, saat ungkap kasus di Polres Tanjab Barat, Jambi, Selasa (10/03/2020) hari ini:

1. Penyitaan HP Anak Pelaku yang Diam-diam Mainkannya

Peristiwa ini berawal dari korban (Kelapa Sekolah, red) kepada seorang siswa yang merupakan anak pelaku, pada Rabu (04/03/2020). Saat itu, siswa tengah melaksanakan ujian dan pengawas meminta para siswa untuk meletakan buku, tas dan handphone (HP) di luar kelas.

Ternyata anak pelaku keluar kelas diam-diam mengambil HP yang diminta guru diletakan di luar kelas dan memakai HP di dekat toilet. Hal ini dipergoki korban yang meminta HP anak pelaku. Kemudian, korban meminta kepada siswa jika ingin mengambil HP-nya harus bersama orang tua ke sekolah.

2. Ke Sekolah Membabi-buta Serang Korban

Sore harinya, orangtua siswa tersebut datang ke sekolah. Namun, kehadirannya malah marah-marah kepada korban. Saat itu, pelaku juga menyerang Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dengan menggunakan batu bata yang ada di depan kantor guru.

Tak hanya itu, pelaku juga sempat melayangkan pukulan dengan tongkat Pramuka ke arah Kepala Sekolah. Beruntung, lemparan batako dan pukulan tongkat pramuka tersebut tidak mengenainya. Perkelahian pelaku dan korban dapat dipisahkan oleh Wakil Kesiswaan.

3. Korban Lapor ke PGRI hingga ke Polisi

Mendapat perlakuan tak mengenakan itu, Kepala Sekolah tersebut kemudian melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jambi dan kemudian ditindaklajuti menempuh jalur hukum.

Wakapolres Tanjab Barat, Kompol Wirmanto membenarkan jika ada laporan tersebut, dan ia juga menyebutkan telah ada pertemuan dengan pihak yang bersangkutan dan perwakilan PGRI di Mapolres Tanjab Barat, Jumat (06/03/2020).

4. Polisi Tetapkan Pelaku sebagai Tersangka dan Ditangkap

Akhirnya, pelaku resmi berstatus tersangka terkait penyerangan tersebut. Tim Reskrim Polres Tanjab Barat berhasil menangkap tersangka, Senin (9/3) sekitar pukul 07.00 WIB, yang tengah berada di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

Kapolres Tanjab Barat, AKBP Guntur Saputro mengatakan pelaku ditangkap di kawasan Kabupaten Batanghari. Menurutnya saat dilakukan penangkapan, pelaku tidak melakukan perlawanan dan langsung di bawa ke Mapolres Tanjab Barat.

5. Penemuan 2 Senpi dari Pelaku

Dalam prarekontruksi, polisi menemukan Air Softgun serta mendalami dugaan kepemilikan senjata api rakitan. Tersangka mengaku memiliki senjata api rakitan tersebut, dibelinya senilai Rp 2 juta yang membeli dari rekannya berinisial R.

Dari pengungkapan polisi, tersangka ini baru sekitar dua minggu memiliki Senpi rakitan. Senpi yang dimiliki tersangka tersebut, sempat dibuangnya untuk menghilangkan jejak.

6. Pelaku Positif Pemakai Narkoba Jenis Sabu

Selain itu, tersangka juga positif menggunakan narkoba jenis shabu. Awalnya, ia tak mengakui nya. Namun, polisi mencurigai, bahwa tersangka memiliki keterlibatan dengan barang haram tersebut.

Tak hanya itu, polisi juga menemukan alat hisap atau bong. Kapolres Tanjab Barat, AKBP Guntur Saputro menanyakan pada pelaku terkait kepemakaian narkoba. Akhirnya, tersangka baru mengakui bahwa ia mengkonsumsi narkoba.

7. Pelaku Diancam 2 Pasal KUHP

Polres Tanjab Barat yang menangani kasus tersebut, mengenakan tindak pidana penganiayaan atau pengancaman dengan kekerasan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 KUHPidana atau pasal 335 ayat (1) KUHPidana. Dipidana penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau 1 tahun. (Alra)

DRadio 104,3 FM Jambi