Beranda Akses Berikut Penjelasan BPBD Terkait Daerah Rawan Banjir di Tanjab Barat

Berikut Penjelasan BPBD Terkait Daerah Rawan Banjir di Tanjab Barat

TANJABBAR, AksesJambi.com – Kabupaten Tanjung Jabung Barat termasuk dalam wilayah yang juga mengalami banjir ketika musim hujan au cuaca ekstrem. Hal ini disampaikan oleh Zulfikri , Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanjabbar saat di konfirmasi, Jumat (8/5/2020)

Ia menyebutkan bahwa minggu kemarin pihaknya mendapatkan laporan terkait dengan adanya daerah yang terkena banjir. Namun banjir tersebut hanya terjadi beberapa jam saja, karena memang dalam kondisi hujan seharian.

“Kalo minggu kemrin ada kita dapat laporan banjir. Karena memang kondisi kontur daerah cekung. Tapi itu cuma beberap jam,”ungkapnya

Lebih lanjut disampaikan oleh Zulfikri bahwa daerah yang telah banjir tersebut yaitu di Desa Renah Mendalo, dan Cinta Damai. Setidaknya ada 12 rumah yang terendam hingga sampai ke lantai rumah.

“Daerah rawan banjir itu daerah ulu, di renah mendalo kecamatan tungkal ulu yang di aliran sungai pengabuan,”tambahnya

Sementara itu, terhadap kerawanan banjir tersebut pihaknya telah meminta kepada pihak Kecamatan untuk mengantisipasi daerah-daerah yang rawan banjir. Terlebih lagi kata Zulfikri bahwa cuaca di Tanjabbar saat ini masuk dalam cuaca ekstrim.

“Kita sudah minta kepada pihak kecamatan untuk memantau daerah-daerah yang rawan banjir. Kita minta untuk segera menyampaikan laporan terjadinya banjir, Kalau sudah dapat laporan dan memang butuh bantuan evakuasi dan kita lapor ke dinsos untuk dapat bantuan,”tambahnya

Di sisi lain, saat ditanya apakah pihak BPBD telah membuat posko siaga untuk bencana banjir di beberapa kecamatan atau daerah rawan banjir. Zulfikri menyebutkan bahwa sampai dengan saat ini belum ada posko khusus untuk bencana banjir.

“Untuk khusus bencana banjir itu belum ada, kita masih posko yang ada di kecamatan di siaga covid. Rata-rata itu kalo banjir di tanjabbar itu daerah sekitar aliran sungai Pengabuan,”ungkapnya

Sementara itu, di ungkapkan oleh Zulfikri bahwa untuk pemantauan ketinggian air di sungai pengabuan tidak bisa terdeteksi. Pasalnya di Sungai Pengabuan tidak memiliki auto level muka air yang dapat memantau ketinggian air.

“Kita tidak ada auto level muka air, itu kemarin kita usulkan alat itu ke Provinsi dan sudah kita bahas waktu rapat koordinasi, tapi belum ada. Karena memang dengan alat itu kita bisa memantau sekian ketinggian air ketika hujan lebat,”pungkasnya. (Dika)

DRadio 104,3 FM Jambi